"Ya Allah, nduk.. Ya Allah, nduk!! Awakmu iki kok angel men dikandani" (Ya Allah, Nak.. Kamu ini kok susah banget dibilangin).
Itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan Bapak ku atas tingkahku yang semakin tidak waras beberapa tahun ini. Sampai-sampai beliau ndak pernah berbicara lagi dengan ku.
Maafkan aku, Bapak!
Aku punya alasan mengapa aku bertindak demikian, Aku cuma ingin memiliki apa yang aku inginkan, tapi beliau tak bisa mengerti. Saat itu aku mungkin tidak tahu apa yang sedang direncanakan olehnya, yang aku tahu saat itu hidup ini semakin tidak adil. Mereka (Bapak dan Ibu) tidak pernah menanyakan alasanku.
Siang ini, Jumat, 10 Oktober 2014. Saat aku akan pergi ke Ibukota untuk mengikuti salah satu tahapan dalam cita-citaku. Aku pamitan pada Bapak, terlihat beliau sangat berat untuk melepasku. Tapi beliau bukan mencegahku untuk pergi, bahkan beliau menawarkan untuk mengantarku. "Ayok tak terno.." (Ayo tak antarkan)
Sejenak hening...
Aku tak percaya.. tanpa pikir panjang aku mengiyakan.
Dalam perjalanan aku ingin menangis, sangaaat ingin menangis. Aku tak pernah merasakan se-bahagia ini dalam beberapa tahun terakhir. Aku seperti kembali pada masa kanak-kanak, dimana selalu diantarkan orangtuanya kemanapun kita pergi. Dan saat itu aku merasakan hal tersebut.
Bayangkan, disiang yang sangat terik, sepulangnya Bapakku kerja, ditengah capeknya, beliau dengan semangat mengantarkan putrinya yang ambisius ini menuju ke Ibukota. Walaupun tidak sampai di Ibukota, setidaknya aku tidak sendiri lagi.
Tuhan, terimakasih...
Aku sayang Beliau. Dan bahkan aku sangat menyesal telah membuatnya marah beberapa tahun yang lalu. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus berbuat dan minta maaf pada beliau.
Maafkan aku...
Sejenak aku tersadar, bahwa mengambil pilihan sesuai dengan kemauan orang tua itu bukanlah hal yang buruk yang akan menimpa kita. Itu justru adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan kita. Kini aku merasakannya. Justru ini adalah hal terbaik yang pernah aku rasakan.
Jauh di lubuk hatiku, aku mencintai kalian semua <3 :'(
Percayalah, aku tidak akan mengecewakan kalian lagi, Ibu.. Bapak..
Aku akan menunjukkan bahwa ketidakwarasannku akan menghasilkan sesuatu yang dapat kalian banggakan. Aku yakin aku pasti bisa setelah aku berusaha.
Thank you for supporting me.. I promise..
Jujur...
Meskipun hanya beberapa kata dalam satu kalimat yang masuk di BBM atau WA, dalam dua hari ini aku merasa diperhatikan olehmu
Terimakasih
Bahagiaku sederhana kan..