Dan disaat seperti ini, aku merasa selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di beranda kosmu.
"Hai..." sapaku gugup
Kau membalas dengan anggukan, seakan kurang percaya dengan kehadiranku di sini
"Sini, Al. Masuk.."
Tanpa pikir panjang, aku langsung memindahkan motorku ke teras
"Kapan datang?" tanyamu
"Tadi malam..."
Beberapa menit lamanya, kita hanya terdiam. Mungkin berkata-kata dalam hati. Mereka-reka isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus.
"Kamu kapan balik?" Tanyamu akhirnya
"Besok siang..." jawabku.
"Oh..." hanya kata itu yang mampu kau lemparkan.
Aku dan kamu kembali dipagu gagu. Entak sejak kapan kegaguan ini melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak.
Saat duduk disampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat yang paling kusuka. Aku selalu menikmati waktu bersakamu, meski sejenak.
"Aku balik ke kampus dulu ya, acaranya udah mau mulai"
"Eh..."
"Aku kesini hanya untuk mampir"
"Nanti siang aja kita jalan, kamu selesai jam berapa?" Nah... ini dia yang aku tunggu-tunggu. Mari kita kencan :D
Sore itu, aku menemuimu
duduk pada anak tangga di depan rumah. Kau tampak rapi dengan kaos
birumu itu dan kaca mata berbingkai hitam itu membuat kau tampak semakin
menarik. Aku merasa, selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di
beranda rumahku.
"Hai" sapamu gugup. Aku membalas dengan anggukan sembari mengambil
tempat di sisimu.
"Lama menunggu?" tanyaku basa-basi.
Kau menggeleng cepat. "Nggak."
Lalu hening.
Beberapa menit lamanya kita hanya berkata-kata dalam hati. Mereka-reka
isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus yang
turun dari langit.
"Kamu kapan pulang?" tanyaku akhirnya.
"Sudah 2 minggu. Besok juga udah mau berangkat." jelasmu pelan.
Jantungku berdegup cepat hingga nyaris mengaburkan jawaban yang susah
payah kau rangkai.
"Ooh.." hanya kata itu yang mampu kulemparkan untuk menekan nyeri di
dadaku. Aku dan kamu kembali dipaku gagu. Entah sejak kapan kegaguan ini
melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk
merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak. Saat duduk di
sampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat paling kusuka. Aku selalu
menikmati waktu bersamamu--meski sejenak.
"Selamat tinggal."
"Eh?"
"Aku ke sini hanya untuk mengucapkan itu." katamu lirih.
"Kenapa?"
"Aku menemukan seseorang." jawabmu semakin lirih.
Aku terdiam. Ada sesak menyekap. Dadaku dipenuhi gelembung-gelembung
tangis. Sangat sesak.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Sore itu, aku menemuimu
duduk pada anak tangga di depan rumah. Kau tampak rapi dengan kaos
birumu itu dan kaca mata berbingkai hitam itu membuat kau tampak semakin
menarik. Aku merasa, selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di
beranda rumahku.
"Hai" sapamu gugup. Aku membalas dengan anggukan sembari mengambil
tempat di sisimu.
"Lama menunggu?" tanyaku basa-basi.
Kau menggeleng cepat. "Nggak."
Lalu hening.
Beberapa menit lamanya kita hanya berkata-kata dalam hati. Mereka-reka
isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus yang
turun dari langit.
"Kamu kapan pulang?" tanyaku akhirnya.
"Sudah 2 minggu. Besok juga udah mau berangkat." jelasmu pelan.
Jantungku berdegup cepat hingga nyaris mengaburkan jawaban yang susah
payah kau rangkai.
"Ooh.." hanya kata itu yang mampu kulemparkan untuk menekan nyeri di
dadaku. Aku dan kamu kembali dipaku gagu. Entah sejak kapan kegaguan ini
melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk
merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak. Saat duduk di
sampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat paling kusuka. Aku selalu
menikmati waktu bersamamu--meski sejenak.
"Selamat tinggal."
"Eh?"
"Aku ke sini hanya untuk mengucapkan itu." katamu lirih.
"Kenapa?"
"Aku menemukan seseorang." jawabmu semakin lirih.
Aku terdiam. Ada sesak menyekap. Dadaku dipenuhi gelembung-gelembung
tangis. Sangat sesak.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ





