Rabu, 12 Desember 2018

A PhD Student Life






Tak pernah terfikir akan sampai pada tahap ini sebelumnya. Dulu, imajinasi jaman masih SMA sih simpel, bisa masuk di Perguruan Tinggi Negeri dan lulus 4 tahun aja udah cukup. But who knows? Allah memberikan berbagai jalan dari manapun untuk saya bisa sampai pada tahap ini. 
Apakah mudah?
Really no... I am a woman, a wife and also a mother now. Its not easy and never be easy. Jadi buat para wanita dimanapun, yang bisa berkesempatan 24 jam bersama anak, bersyukurlah. Hidup anda lebih-lebih enak dibandingkan saya. Kalau hidup tentang prioritas, mungkin kelas prioritas kita berbeda, komunitas kita berbeda pula. So... lets support the other moms in this world.
Lets start...
Perjalanan ini dimulai dari kuliah S1 Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang. Belum lulus S1 pun, sudah dapat beasiswa S2 dari Beasiswa Unggulan Fast Track DIKTI 2011. Saya angkatan pertama beasiswa ini, sudah jelas program beasiswanya masih samar-samar gitu. Jadi saya menghabiskan waktu tepat 5 tahun untuk study S1 dan S2 dengan jurusan yang sama. 
Saat itu, salah satu dosen saya sempat menawarkan langsung lanjut S3 dengan beasiswa di kampus yang sama, tetapi saya menolak karna hmmm you know, I spend 5 years for study, I just want to take a breathe for a while and enjoy my life, nge-mall misalnya, main ke pantai misalnya, dll. 
Tuhan memang Maha Baik, saya belum pernah menganggur sepanjang lulus kuliah S1, walaupun saat itu saya masih study S2. Belum wisuda S2, saya sudah direkrut oleh salah satu Profesor saya untuk menjadi salah satu Peneliti di Lembaga Penelitian Swasta miliknya sekaligus sebagai Pengurus Jurnal yang beliau kelola. Tepat 1 tahun 2 bulan bergabung di sana, Allah memberikan rejeki dengan diterimanya saya sebagai CPNS di salah satu Lembaga penelitian bergengsi di Negeri ini. Lagi-lagi ini bukan hal yang mudah. Semua butuh kerja dan kemauan keras. Nah mulai dari sinilah awal jalan saya menuju ke sini.
A wife with one daughter as a PhD student. Biomedical Scinece is my Major study. Gak usah di-iri-in nanti kamu bakal stress sendiri. Gak usah pula dibayangin, biar aku saja yang menjalani. 
Apakah saya menyesal? 
Jelas tidak. Big no... Saya punya target, saya punya planning, saya percaya Allah mentakdirkan ini untuk saya dan pasti saya bisa. Dukungan suami dan keluarga besar , Alhamdulillah tidak pernah kurang, bahkan berlebih. 
Gimana rasanya?
Bangga dong bisa bikin bangga orang tua sekaligus bisa jadi menantu yang bisa dibanggakan. 

I am a Mother, a wife, a PhD student and I am proud of myself..

Sabtu, 02 Juni 2018

Dia menangis diantara conceptual framework

Korat, 2 Juni 2018
Di suatu siang, 12.00 waktu setempat, Suranaree University of Technology Library

Siang itu, kerangka konseptual disertasi yang dia buat sudah hampir selesai. Namun tiba-tiba diagram yang sempat dia buat kacau di dalam otaknya. semua berputar-putar tak jelas, entah mengarah ke mana. Tangisan pun pecah. Wanita itu menangis di depan laptop kerjanya. Hal yang harus diselesaikan yakni membuat kerangka konseptual untuk disertasinya. Namun, semuanya kacau.
"Wanita mana yang rela jika lelakinya dikenang oleh perempuan lain?"
Pertanyaan yang tak pernah mendapat sambutan baik oleh setiap wanita bersuami di dunia ini.
 Kau tau apa yang diinginkan wanita itu sekarang?
Bukan... dia tidak ingin marah ke perempuan itu. Satu hal yang dia inginkan, buru-buru menutup laptop dan bergegas ke parkiran lalu pulang untuk memeluk anak semata wayangnya, walaupun saat itu sedang tidur, lalu menangis sembari memeluknya.
Wanita itu sangat percaya pada lelakinya, dia lelaki yang baik yang tak mungkin berbuat dusta kepada wanitanya.
ini semua hanyalah tentang pelajaran hidup, bukan tentang wanita itu dan lelakinya. Melainkan  bagaimana kita saling menjaga perasaan sesama wanita.  Ini semua tentang hati, hati dua orang wanita. Wanita mana yang ingin tersakiti? Pasti tidak ada. Haruskah dua orang wanita saling menyakiti? Tidak. Ataukah salah satu yang menyakiti? Tidak pula...
Common Mrs... All of your relationship is over. You might remember him, but please kenanglah hanya untuk dirimu saja. Jangan kau hancurkan hati seorang wanita hanya demi your fu*cking memories with her husband. Yang kau kenang itu telah beristri, tidak kah kau memikirkan bagaimana perasaan istrinya jika suatu saat membaca kenangan yang sengaja kau tulis itu?
 Percayalah Tuhanmu tak mentakdirkanmu bersama dengan lelaki dalam kenanganmu. So please... Don't hurt every single heart with your fu*king memories.
Dan ketahuilah... wanita yang sedang menangis tadi telah memaafkanmu.


Minggu, 03 Januari 2016

Maaf

Aku pernah menunggumu pulang, tepat di akhir tahun
Menunggu untuk merayakan ulang tahunmu
Saat itu kamu memang kembali, tapi tidak benar-benar pulang
Bahkan untuk berkabar pun kamu tak pernah
Dan tak ada kata maaf
Sejak saat itu, aku kembali, kembali ke rumahku
Kamu tak pernah mencegahku kembali, hanya membiarkan
Setelah sampai di sini, maaf... aku tidak akan menoleh lagi ke belakang.
Terlalu pilu untuk dirasa


Rabu, 05 Agustus 2015

Ia yang Sedang Menuju ke Sini

Rifana Sobari and Me

Ia sedang bersiap, entah mempersiapkan apa
Aku tidak tahu, aku hanya tahu bila ia sedang bersiap
Aku juga akan bersiap

Ia datang dari jauh, entah datang dari mana
Aku tidak tahu
Yang pasti ia datang dari jauh
Buktinya kami belum juga bertemu
Meski waktu sudah bertahun berlali
Ia pasti orang baik
Aku yakin, ia orang baik
Karna aku pasti akan menolak orang yng tidak baik
Setidaknya dalam batas pengetahuanku tentangnya

Ia pasti sedang berdoa, entah apa yang ia doakan
Aku merasa sedang berusaha mewujudkan doanya itu
Belajar menjadi orang baik
Mencari ilmu tentang segala sesuatu untuk hari nanti
Bersiap diri, belajar ini dan itu
Agar ketika ia datang, ia takjub karna doa doanya menjadi kenyataan
Ia pasti sedang menuju ke sini
Aku tidak tahu sudah sampai mana pernajalannya
Tapi aku percaya ia sedang ke sini
Ia sedang kesini
Cibinong, 6 Agustus 2015

Dikutip dari "Ia yang Sedang Menuju ke Sini by SuaraCerita on SoundCloud"
https://soundcloud.com/suaracerita/ia-yang-sedang-menuju-kesini

Kamis, 09 Juli 2015

Father

Oke.. siang ini aku ingin bercerita tentang seorang pria yang ku kenal. Seseorang yang tidak akan pernah melukai hati anak perempuannya. Dia adalah Ayahku.
Aku, tidak seperti anak kebanyakan diluar sana yang memiliki hubungan yang dekat dengan Ayahnya. Sebaliknya, aku tidak memiliki hubungan yang dekat. Kami hanya berbicara ala kadarnya saja, seperlunya. Bahkan komunikasi kami sering lewat perantara wanita super di dunia, yaitu Ibuku. Atau kadang hanya lewat sms. Kami sangat jarang berdiskusi atau ngobrol, entah mungkin sudah sejak 4 tahun yang lalu. Maafkan aku Ayah… Aku menyesal telah melewatkan 4 tahun dengan diam.
Aku sungguh menangis ketika mulai menulis blog tentangmu ini. Dibalik semua kekecewaanmu beberapa waktu lalu, sungguh aku sayang Ayah. Maafkan gadismu ini Ayah..
Mungkin bagi Ayah, sedewasa apapun usiaku kini, aku akan tetap menjadi gadis kecilnya. Ayah tidak akan rela sesuatu menyakiti gadisnya. Entah karena alasan apapun. Mungkin itu yang dulu belum bisa aku pahami maksud dari seorang Ayah. Sekali lagi, maafkan aku Ayah…
Aku sering tersenyum sendiri jika tau reaksinya bahwa ada seorang pria lain yang mengantarku pulang atau jika malam-malam ada telpon dari seorang pria. Terkadang aku juga harus bersabar ekstra dalam memberikan penjelasan tentang pria itu.
Aku tahu sekarang, Ayah sering cemburu dengan pria anak gadisnya. Atau saat itu Ayah benar-benar hanya ingin pria yang baik untuk bersama gadisnya. Sepertinya Ayah terlalu takut jika anak gadisnya patah hati hanya karna pria yang tidak bertanggung jawab. Atau saat itu Ayah sudah menentukan pilihannya berdasarkan penilaian dan beberapa pertimbangan untuk anak gadisnya ini. Tapi sayangnya, gadismu ini gadis modern, yang menolak perjodohan. Maafkan aku yang melewatkan niat baikmu, Ayah…
Aku dan Ayah memang tak pernah membicarakan hal-hal pribadi. Selama ini aku hanya jadi pendengar setia saja. Tentang masa mudamu, tentang kesederhanaan hidupmu meskipun kau terlahir dari keluarga kaya, tentang kebaikanmu yang sering menolong teman sekolah dan kuliah, bahkan tentang pertemuanmu dengan Ibu.
Tapi aku justri menjadi gadus yang tak ingin membagi apapun kepadanya. Bukan karena tak percaya, aku hanya tkut tidak sesuai saja dengan keinginnanmu atau aku takut jika hal ini hanya akan menyusahkanmu dengan menghadapi pilihan-pilihan hidupku yang bagimu pasti sangat tak masuk akal yang akhirnya justru akan menyusahkan ku sendiri.
Dan lucunya juga, Ayah tak pernah mempertanyakan mengapa wajah ini sembab di pagi hari,  atau bertanya mengapa mata ini bengkak seperti habis menangis. Ayah mungkin memang tidak akan bertanya, tapi Ayah hanya akan menyimpannya di dalam hati saja sembari bertanya-tanya sebab apakah yang membuat wajah dan mata gadisnya seperti itu. Dia selalu memberikanku ruang untuk belajar menghadapi sendiri masalahku.
Jika dia pandai berkata-kata, Ayah pasti akan berkata “Nak, nikmati semua perih yang terjadi di hidupmu. Karna ga semua orang bisa menikmatinya. Jika kamu sudah sanggup menikmati, itu tandanya kamu sudah naik kelas”
Bukan sekali dua kali kami berselisih paham, bahkan bukan sehari dua hari kami saling mendiamkan. tapi selalu ku yakini, semua ini terjadi hanya karna Ayah takut kehilangan gadisnya. 
Mungkin di saat ayah-ayah lain mengizinkan anaknya untuk melakukan sesuatu yang melanggar jam malam, tapi Ayahku justru tidak mengizinkan gadisnya pulang larut malam, kecuali tanpa alasan yang jelas. 
Disaat ayah-ayah lain memberikan kepercayaannya pada anaknya untuk berda di rumah sendiri, tapi Ayahku justru khawatir meninggalkan gadisnya sendirian dirumah. Seringkali dia menelpon teman perempuanku untuk menemanimu meski cuma semalam, ditambah dia akan menelpon muridnya untuk jadi satpam dirumahku. Meskipun pada akhirnya aku tahu, Ayahku masih menganggap aku gadis kecilnya yang masih harus dilindungi.
Yah.. Ayahku menang ayah yang cukup berbeda dari kebanyakan ayah di dunia ini. Ayah selalu punya cara tersendiri dalam menyayangi anak perempuannya. Dan buat aku, Ayah adalah cinta pertamaku, yang baru aku sadari saat ini. Ayah adalah satu-satunya pria yang tidak akan mengecewakanku. Dan bagi Ayah, sedewasa apapun gadisnya, dia akan menganggap kita tetap sebagai putri kecilnya. Bahkan jika suatu saat nanti kita menggenggam pria lain yang akan menjaga kita kelak, kita akan tetap menjadi putri bagi seorang ayah.





 

Senin, 06 Juli 2015

Dissapointed

Lets Rain Wash Away All the Pain of Yesterday 
Aku duduk diam di meja staff kantor. Sedang mencoba merenungi apa yang sudah aku berikan pada dunia. Aku terlahir dan kemudian berjuang dengan sendiri. Lalu mengapa manusia harus dijadikan makhluk sosial ? tanya hati sedari tadi. Manusia akan datang sendiri dan kembali pun sendiri. Lalu  untuk apa manusia harus dijadikan beketerkaitan dengan yang lain? Bukankah akan menjadi menyedihkan bila bergandengan sedari awal, namun disaat puncak dilepas begitu saja? Aku hanya sedang berfikir, tak perlu komentar. Tenang, ini hanya fikiranku saja.

Berfikir tentang egonya manusia yang hanya ingin menerima disaat membutuhkan. Namun berlari menjauh meninggalkan ketika sudah mendapatkan. Berfikir tentang cara menjalani hidup yang ternyata jalannya sangat jahat. Lalu jika tidak jahat, apa coba namanya? apa bisa dinamakan baik jika caranya seperti itu?. Selalu mengecewakan yang lain dan untung bagi dirinya sendiri.

Mengandalkan manusia memang selalu dan pasti mengecewakan. Lantas, mengapa kita harus terus saling terikat dan harus saling membutuhkan? bukankah hal itu hanya dinamakan menunda kekecewaan ?

Mungkin kita ini, aku dan kamu memang diciptakan untuk seperti itu sepertinya. Kita akan saling membutuhkan satu sama lain, namun pasti juga akan mengecewakan satu sama lain. Sepertinya Pencipta hanya ingin kita memainkan peran kita dengan baik sebagai manusia. Dan kemudian memasrahkan sepenuhnya pada Tuhan, sang sutradara kehidupan.

Tuhan bukan objek yang membutuhkan kita dan kemudian mengecewakan kita, setidaknya karena dia bukan manusia. Mungkin hanya Tuhan yang aku butuhkan, sebagai sebuah sandaran yang justru tak akan pernah mengecewakan. Setidaknya, Tuhan sudah menjaminnya dalam kitab-kitab yang tlah mendengar nubuatnya.

Ya... sepertinya itu berlaku dalam hidupku yg terlalu mengandalkan manusia dan kemudian mendapat kecewa seperti sekarang. Ya... setidaknya, kalian pasti pernah merasakannya. J
ika belum, mungkin sebentar lagi

Rabu, 24 Juni 2015

Malang, June 9th 2015

Pagi itu, aku menemuimu. Aku duduk di atas sepeda motor yang sengaja ku parkirkan di depan kosmu. Kau tampak manis dengan kaos warna birumu itu, kau tampak semakin menarik.
Dan disaat seperti ini, aku merasa selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di beranda kosmu.
"Hai..." sapaku gugup
Kau membalas dengan anggukan, seakan kurang percaya dengan kehadiranku di sini
"Sini, Al. Masuk.."
Tanpa pikir panjang, aku langsung memindahkan motorku ke teras
"Kapan datang?" tanyamu
"Tadi malam..."

Beberapa menit lamanya, kita hanya terdiam. Mungkin berkata-kata dalam hati. Mereka-reka isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus.
"Kamu kapan balik?" Tanyamu akhirnya
"Besok siang..." jawabku.
"Oh..." hanya kata itu yang mampu kau lemparkan.
Aku dan kamu kembali dipagu gagu. Entak sejak kapan kegaguan ini melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak. 
Saat duduk disampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat yang paling kusuka. Aku selalu menikmati waktu bersakamu, meski sejenak.
"Aku balik ke kampus dulu ya, acaranya udah mau mulai"
"Eh..."
"Aku kesini hanya untuk mampir"
"Nanti siang aja kita jalan, kamu selesai jam berapa?" Nah... ini dia yang aku tunggu-tunggu. Mari kita kencan  :D

Sore itu, aku menemuimu duduk pada anak tangga di depan rumah. Kau tampak rapi dengan kaos birumu itu dan kaca mata berbingkai hitam itu membuat kau tampak semakin menarik. Aku merasa, selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di beranda rumahku. "Hai" sapamu gugup. Aku membalas dengan anggukan sembari mengambil tempat di sisimu. "Lama menunggu?" tanyaku basa-basi. Kau menggeleng cepat. "Nggak." Lalu hening. Beberapa menit lamanya kita hanya berkata-kata dalam hati. Mereka-reka isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus yang turun dari langit. "Kamu kapan pulang?" tanyaku akhirnya. "Sudah 2 minggu. Besok juga udah mau berangkat." jelasmu pelan. Jantungku berdegup cepat hingga nyaris mengaburkan jawaban yang susah payah kau rangkai. "Ooh.." hanya kata itu yang mampu kulemparkan untuk menekan nyeri di dadaku. Aku dan kamu kembali dipaku gagu. Entah sejak kapan kegaguan ini melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak. Saat duduk di sampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat paling kusuka. Aku selalu menikmati waktu bersamamu--meski sejenak. "Selamat tinggal." "Eh?" "Aku ke sini hanya untuk mengucapkan itu." katamu lirih. "Kenapa?" "Aku menemukan seseorang." jawabmu semakin lirih. Aku terdiam. Ada sesak menyekap. Dadaku dipenuhi gelembung-gelembung tangis. Sangat sesak.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Sore itu, aku menemuimu duduk pada anak tangga di depan rumah. Kau tampak rapi dengan kaos birumu itu dan kaca mata berbingkai hitam itu membuat kau tampak semakin menarik. Aku merasa, selalu jatuh cinta setiap kali menemukanmu di beranda rumahku. "Hai" sapamu gugup. Aku membalas dengan anggukan sembari mengambil tempat di sisimu. "Lama menunggu?" tanyaku basa-basi. Kau menggeleng cepat. "Nggak." Lalu hening. Beberapa menit lamanya kita hanya berkata-kata dalam hati. Mereka-reka isi kepala, merangkai kata atau hanya menikmati rinai-rinai halus yang turun dari langit. "Kamu kapan pulang?" tanyaku akhirnya. "Sudah 2 minggu. Besok juga udah mau berangkat." jelasmu pelan. Jantungku berdegup cepat hingga nyaris mengaburkan jawaban yang susah payah kau rangkai. "Ooh.." hanya kata itu yang mampu kulemparkan untuk menekan nyeri di dadaku. Aku dan kamu kembali dipaku gagu. Entah sejak kapan kegaguan ini melingkupi kita. Entah sudah berapa baris jeda yang kita ciptakan untuk merangkai kata. Kau mungkin bosan, tapi aku tidak. Saat duduk di sampingmu, meski hanya hening adalah saat-saat paling kusuka. Aku selalu menikmati waktu bersamamu--meski sejenak. "Selamat tinggal." "Eh?" "Aku ke sini hanya untuk mengucapkan itu." katamu lirih. "Kenapa?" "Aku menemukan seseorang." jawabmu semakin lirih. Aku terdiam. Ada sesak menyekap. Dadaku dipenuhi gelembung-gelembung tangis. Sangat sesak.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ