Kamis, 09 Juli 2015

Father

Oke.. siang ini aku ingin bercerita tentang seorang pria yang ku kenal. Seseorang yang tidak akan pernah melukai hati anak perempuannya. Dia adalah Ayahku.
Aku, tidak seperti anak kebanyakan diluar sana yang memiliki hubungan yang dekat dengan Ayahnya. Sebaliknya, aku tidak memiliki hubungan yang dekat. Kami hanya berbicara ala kadarnya saja, seperlunya. Bahkan komunikasi kami sering lewat perantara wanita super di dunia, yaitu Ibuku. Atau kadang hanya lewat sms. Kami sangat jarang berdiskusi atau ngobrol, entah mungkin sudah sejak 4 tahun yang lalu. Maafkan aku Ayah… Aku menyesal telah melewatkan 4 tahun dengan diam.
Aku sungguh menangis ketika mulai menulis blog tentangmu ini. Dibalik semua kekecewaanmu beberapa waktu lalu, sungguh aku sayang Ayah. Maafkan gadismu ini Ayah..
Mungkin bagi Ayah, sedewasa apapun usiaku kini, aku akan tetap menjadi gadis kecilnya. Ayah tidak akan rela sesuatu menyakiti gadisnya. Entah karena alasan apapun. Mungkin itu yang dulu belum bisa aku pahami maksud dari seorang Ayah. Sekali lagi, maafkan aku Ayah…
Aku sering tersenyum sendiri jika tau reaksinya bahwa ada seorang pria lain yang mengantarku pulang atau jika malam-malam ada telpon dari seorang pria. Terkadang aku juga harus bersabar ekstra dalam memberikan penjelasan tentang pria itu.
Aku tahu sekarang, Ayah sering cemburu dengan pria anak gadisnya. Atau saat itu Ayah benar-benar hanya ingin pria yang baik untuk bersama gadisnya. Sepertinya Ayah terlalu takut jika anak gadisnya patah hati hanya karna pria yang tidak bertanggung jawab. Atau saat itu Ayah sudah menentukan pilihannya berdasarkan penilaian dan beberapa pertimbangan untuk anak gadisnya ini. Tapi sayangnya, gadismu ini gadis modern, yang menolak perjodohan. Maafkan aku yang melewatkan niat baikmu, Ayah…
Aku dan Ayah memang tak pernah membicarakan hal-hal pribadi. Selama ini aku hanya jadi pendengar setia saja. Tentang masa mudamu, tentang kesederhanaan hidupmu meskipun kau terlahir dari keluarga kaya, tentang kebaikanmu yang sering menolong teman sekolah dan kuliah, bahkan tentang pertemuanmu dengan Ibu.
Tapi aku justri menjadi gadus yang tak ingin membagi apapun kepadanya. Bukan karena tak percaya, aku hanya tkut tidak sesuai saja dengan keinginnanmu atau aku takut jika hal ini hanya akan menyusahkanmu dengan menghadapi pilihan-pilihan hidupku yang bagimu pasti sangat tak masuk akal yang akhirnya justru akan menyusahkan ku sendiri.
Dan lucunya juga, Ayah tak pernah mempertanyakan mengapa wajah ini sembab di pagi hari,  atau bertanya mengapa mata ini bengkak seperti habis menangis. Ayah mungkin memang tidak akan bertanya, tapi Ayah hanya akan menyimpannya di dalam hati saja sembari bertanya-tanya sebab apakah yang membuat wajah dan mata gadisnya seperti itu. Dia selalu memberikanku ruang untuk belajar menghadapi sendiri masalahku.
Jika dia pandai berkata-kata, Ayah pasti akan berkata “Nak, nikmati semua perih yang terjadi di hidupmu. Karna ga semua orang bisa menikmatinya. Jika kamu sudah sanggup menikmati, itu tandanya kamu sudah naik kelas”
Bukan sekali dua kali kami berselisih paham, bahkan bukan sehari dua hari kami saling mendiamkan. tapi selalu ku yakini, semua ini terjadi hanya karna Ayah takut kehilangan gadisnya. 
Mungkin di saat ayah-ayah lain mengizinkan anaknya untuk melakukan sesuatu yang melanggar jam malam, tapi Ayahku justru tidak mengizinkan gadisnya pulang larut malam, kecuali tanpa alasan yang jelas. 
Disaat ayah-ayah lain memberikan kepercayaannya pada anaknya untuk berda di rumah sendiri, tapi Ayahku justru khawatir meninggalkan gadisnya sendirian dirumah. Seringkali dia menelpon teman perempuanku untuk menemanimu meski cuma semalam, ditambah dia akan menelpon muridnya untuk jadi satpam dirumahku. Meskipun pada akhirnya aku tahu, Ayahku masih menganggap aku gadis kecilnya yang masih harus dilindungi.
Yah.. Ayahku menang ayah yang cukup berbeda dari kebanyakan ayah di dunia ini. Ayah selalu punya cara tersendiri dalam menyayangi anak perempuannya. Dan buat aku, Ayah adalah cinta pertamaku, yang baru aku sadari saat ini. Ayah adalah satu-satunya pria yang tidak akan mengecewakanku. Dan bagi Ayah, sedewasa apapun gadisnya, dia akan menganggap kita tetap sebagai putri kecilnya. Bahkan jika suatu saat nanti kita menggenggam pria lain yang akan menjaga kita kelak, kita akan tetap menjadi putri bagi seorang ayah.





 

Senin, 06 Juli 2015

Dissapointed

Lets Rain Wash Away All the Pain of Yesterday 
Aku duduk diam di meja staff kantor. Sedang mencoba merenungi apa yang sudah aku berikan pada dunia. Aku terlahir dan kemudian berjuang dengan sendiri. Lalu mengapa manusia harus dijadikan makhluk sosial ? tanya hati sedari tadi. Manusia akan datang sendiri dan kembali pun sendiri. Lalu  untuk apa manusia harus dijadikan beketerkaitan dengan yang lain? Bukankah akan menjadi menyedihkan bila bergandengan sedari awal, namun disaat puncak dilepas begitu saja? Aku hanya sedang berfikir, tak perlu komentar. Tenang, ini hanya fikiranku saja.

Berfikir tentang egonya manusia yang hanya ingin menerima disaat membutuhkan. Namun berlari menjauh meninggalkan ketika sudah mendapatkan. Berfikir tentang cara menjalani hidup yang ternyata jalannya sangat jahat. Lalu jika tidak jahat, apa coba namanya? apa bisa dinamakan baik jika caranya seperti itu?. Selalu mengecewakan yang lain dan untung bagi dirinya sendiri.

Mengandalkan manusia memang selalu dan pasti mengecewakan. Lantas, mengapa kita harus terus saling terikat dan harus saling membutuhkan? bukankah hal itu hanya dinamakan menunda kekecewaan ?

Mungkin kita ini, aku dan kamu memang diciptakan untuk seperti itu sepertinya. Kita akan saling membutuhkan satu sama lain, namun pasti juga akan mengecewakan satu sama lain. Sepertinya Pencipta hanya ingin kita memainkan peran kita dengan baik sebagai manusia. Dan kemudian memasrahkan sepenuhnya pada Tuhan, sang sutradara kehidupan.

Tuhan bukan objek yang membutuhkan kita dan kemudian mengecewakan kita, setidaknya karena dia bukan manusia. Mungkin hanya Tuhan yang aku butuhkan, sebagai sebuah sandaran yang justru tak akan pernah mengecewakan. Setidaknya, Tuhan sudah menjaminnya dalam kitab-kitab yang tlah mendengar nubuatnya.

Ya... sepertinya itu berlaku dalam hidupku yg terlalu mengandalkan manusia dan kemudian mendapat kecewa seperti sekarang. Ya... setidaknya, kalian pasti pernah merasakannya. J
ika belum, mungkin sebentar lagi