Korat, 2 Juni 2018
Di suatu siang, 12.00 waktu setempat, Suranaree University of Technology Library
Siang itu, kerangka konseptual disertasi yang dia buat sudah hampir selesai. Namun tiba-tiba diagram yang sempat dia buat kacau di dalam otaknya. semua berputar-putar tak jelas, entah mengarah ke mana. Tangisan pun pecah. Wanita itu menangis di depan laptop kerjanya. Hal yang harus diselesaikan yakni membuat kerangka konseptual untuk disertasinya. Namun, semuanya kacau.
"Wanita mana yang rela jika lelakinya dikenang oleh perempuan lain?"
Pertanyaan yang tak pernah mendapat sambutan baik oleh setiap wanita bersuami di dunia ini.
Kau tau apa yang diinginkan wanita itu sekarang?
Bukan... dia tidak ingin marah ke perempuan itu. Satu hal yang dia inginkan, buru-buru menutup laptop dan bergegas ke parkiran lalu pulang untuk memeluk anak semata wayangnya, walaupun saat itu sedang tidur, lalu menangis sembari memeluknya.
Wanita itu sangat percaya pada lelakinya, dia lelaki yang baik yang tak mungkin berbuat dusta kepada wanitanya.
ini semua hanyalah tentang pelajaran hidup, bukan tentang wanita itu dan lelakinya. Melainkan bagaimana kita saling menjaga perasaan sesama wanita. Ini semua tentang hati, hati dua orang wanita. Wanita mana yang ingin tersakiti? Pasti tidak ada. Haruskah dua orang wanita saling menyakiti? Tidak. Ataukah salah satu yang menyakiti? Tidak pula...
Common Mrs... All of your relationship is over. You might remember him, but please kenanglah hanya untuk dirimu saja. Jangan kau hancurkan hati seorang wanita hanya demi your fu*cking memories with her husband. Yang kau kenang itu telah beristri, tidak kah kau memikirkan bagaimana perasaan istrinya jika suatu saat membaca kenangan yang sengaja kau tulis itu?
Percayalah Tuhanmu tak mentakdirkanmu bersama dengan lelaki dalam kenanganmu. So please... Don't hurt every single heart with your fu*king memories.
Dan ketahuilah... wanita yang sedang menangis tadi telah memaafkanmu.