Oke.. siang ini aku ingin bercerita tentang seorang pria
yang ku kenal. Seseorang yang tidak akan pernah melukai hati anak perempuannya.
Dia adalah Ayahku.
Aku, tidak seperti anak kebanyakan diluar sana yang memiliki
hubungan yang dekat dengan Ayahnya. Sebaliknya, aku tidak memiliki hubungan
yang dekat. Kami hanya berbicara ala kadarnya saja, seperlunya. Bahkan komunikasi
kami sering lewat perantara wanita super di dunia, yaitu Ibuku. Atau kadang
hanya lewat sms. Kami sangat jarang berdiskusi atau ngobrol, entah mungkin
sudah sejak 4 tahun yang lalu. Maafkan aku Ayah… Aku menyesal telah melewatkan
4 tahun dengan diam.
Aku sungguh menangis ketika mulai menulis blog tentangmu
ini. Dibalik semua kekecewaanmu beberapa waktu lalu, sungguh aku sayang Ayah.
Maafkan gadismu ini Ayah..
Mungkin bagi Ayah, sedewasa apapun usiaku kini, aku akan
tetap menjadi gadis kecilnya. Ayah tidak akan rela sesuatu menyakiti gadisnya. Entah
karena alasan apapun. Mungkin itu yang dulu belum bisa aku pahami maksud dari
seorang Ayah. Sekali lagi, maafkan aku Ayah…
Aku sering tersenyum sendiri jika tau reaksinya bahwa ada
seorang pria lain yang mengantarku pulang atau jika malam-malam ada telpon dari
seorang pria. Terkadang aku juga harus bersabar ekstra dalam memberikan
penjelasan tentang pria itu.
Aku tahu sekarang, Ayah sering cemburu dengan pria anak
gadisnya. Atau saat itu Ayah benar-benar hanya ingin pria yang baik untuk
bersama gadisnya. Sepertinya Ayah terlalu takut jika anak gadisnya patah hati
hanya karna pria yang tidak bertanggung jawab. Atau saat itu Ayah sudah
menentukan pilihannya berdasarkan penilaian dan beberapa pertimbangan untuk
anak gadisnya ini. Tapi sayangnya, gadismu ini gadis modern, yang menolak
perjodohan. Maafkan aku yang melewatkan niat baikmu, Ayah…
Aku dan Ayah memang tak pernah membicarakan hal-hal pribadi.
Selama ini aku hanya jadi pendengar setia saja. Tentang masa mudamu, tentang
kesederhanaan hidupmu meskipun kau terlahir dari keluarga kaya, tentang
kebaikanmu yang sering menolong teman sekolah dan kuliah, bahkan tentang
pertemuanmu dengan Ibu.
Tapi aku justri menjadi gadus yang tak ingin membagi apapun
kepadanya. Bukan karena tak percaya, aku hanya tkut tidak sesuai saja dengan
keinginnanmu atau aku takut jika hal ini hanya akan menyusahkanmu dengan
menghadapi pilihan-pilihan hidupku yang bagimu pasti sangat tak masuk akal yang
akhirnya justru akan menyusahkan ku sendiri.
Dan lucunya juga, Ayah tak pernah mempertanyakan mengapa
wajah ini sembab di pagi hari, atau
bertanya mengapa mata ini bengkak seperti habis menangis. Ayah mungkin memang
tidak akan bertanya, tapi Ayah hanya akan menyimpannya di dalam hati saja sembari
bertanya-tanya sebab apakah yang membuat wajah dan mata gadisnya seperti itu.
Dia selalu memberikanku ruang untuk belajar menghadapi sendiri masalahku.
Jika dia pandai berkata-kata, Ayah pasti akan berkata “Nak,
nikmati semua perih yang terjadi di hidupmu. Karna ga semua orang bisa
menikmatinya. Jika kamu sudah sanggup menikmati, itu tandanya kamu sudah naik
kelas”
Bukan sekali dua kali kami berselisih paham, bahkan bukan sehari dua hari kami saling mendiamkan. tapi selalu ku yakini, semua ini terjadi hanya karna Ayah takut kehilangan gadisnya.
Mungkin di saat ayah-ayah lain mengizinkan anaknya untuk melakukan sesuatu yang melanggar jam malam, tapi Ayahku justru tidak mengizinkan gadisnya pulang larut malam, kecuali tanpa alasan yang jelas.
Disaat ayah-ayah lain memberikan kepercayaannya pada anaknya untuk berda di rumah sendiri, tapi Ayahku justru khawatir meninggalkan gadisnya sendirian dirumah. Seringkali dia menelpon teman perempuanku untuk menemanimu meski cuma semalam, ditambah dia akan menelpon muridnya untuk jadi satpam dirumahku. Meskipun pada akhirnya aku tahu, Ayahku masih menganggap aku gadis kecilnya yang masih harus dilindungi.
Yah.. Ayahku menang ayah yang cukup berbeda dari kebanyakan ayah di dunia ini. Ayah selalu punya cara tersendiri dalam menyayangi anak perempuannya. Dan buat aku, Ayah adalah cinta pertamaku, yang baru aku sadari saat ini. Ayah adalah satu-satunya pria yang tidak akan mengecewakanku. Dan bagi Ayah, sedewasa apapun gadisnya, dia akan menganggap kita tetap sebagai putri kecilnya. Bahkan jika suatu saat nanti kita menggenggam pria lain yang akan menjaga kita kelak, kita akan tetap menjadi putri bagi seorang ayah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar