Yap... cerita ini dimulai ketika saya diterima menjadi salah satu staff peneliti di salah satu lembaga Negara Republik Indonesia, sebut saja LIPI )Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), sebuah tempat bergengsi, tempat berkumpulnya makhluk-makhluk Tuhan jenius dengan segala ide gemilangnya di bidang Ilmu Pengetahuan. Serangkaian tes berhasil saya ikuti dengan baik, meskipun tanpa kamu :(. Alhamdulillah... saya sekarang bekerja di sini, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.
![]() |
| Gedung InaCC, Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi, LIPI |
![]() |
| Orientasi CPNS LIPI 2015, Puri Avia- Bogor |
![]() |
| Gathering Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi, LIPI |
![]() |
| Bus 1 Group, Orientasi LIPI 2015 |
![]() |
| CPNS 2015 Pusat Penelitian Biologi, LIPI |
Oke kita kembali ke sebelum 4 bulan yang lalu...
Saya terlahir dari keluarga yang sederhana, dengan Ayah dan Ibu yang super istimewa. Terlahir sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara, membuat saya belajar untuk lebih mandiri. Tapi nyatanya saya gagal. Bagaimana tidak, dengan memiliki orang tua istimewa seperti mereka, saya selalu dimanjakan disepanjang hidup saya. Bahkan untuk sekedar membersihkan rumah pun mungkin sangat-sangat jarang saya lalukan. Mencuci baju, mencuci piring, memasak, setrika hampir jarang saya lakukan. Orang tua saya tak pernah menuntut saya untuk melakukan hal tersebut. Saya selalu dimanjakan oleh kecukupan hidup di sepanjang usia saya sampai 24 tahun ini. Tugas saya adalah menyelesaikan tugas belajar dengan hasil maksimal, itulah goal orang tua saya. Setelah belajar, harus belajar terus. Bekerja boleh, asal bukan diniatkan untuk mencari uang semata, tapi tetap untuk belajar.
Fine... itu hidup saya sebelum 4 bulan yang lalu. dan sekarang, kecukupan hidup saya oleh sikap orangtua saya dengan memanjakan berdampak buruk. Saya sama sekali kesulitan hidup sendirian. Dimana makan, mencuci baju, setrika, mencuci piring dan sebagainya harus saya lakukan sendirian. Menjdi pribadi yang mandiri bukan hal yang mudah, ujung-ujungnya masih sering banget nelpon sambil ngerengek minta ini itu untuk kecukupan hidup di sini. OMG... hidupku berbeda sekali...
Selama ini, saya berfikiran kalau saya ini ga boleh terlihat lemah di depan siapapun. Siapapun termasuk kedua orang tua saya. Bagi saya, pura-pura tegar adalah jalan satu-satunya. Tapi tidak demikian... Memendam sessuatu yang berat dan sendirian adalah pilihan yang buruk. Proses menjadi mandiri ini datang begitu tiba-tiba. Tidak ada tumpuan di tanah rantau, tidak ada yang peduli, dan tidak ada yang bisa bantu. Saya belum sanggup Tuhan... Saya belum sanggup.
Lalu jika sudah seperti ini, apa yang harus saya lakukan?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar