Selasa, 16 Juni 2015

Aku Manja

Ada banyak cara Tuhan membuat makhluknya mandiri. Seperti saya ini contohnya. Empat bulan yang lalu hidupku tidak seperti ini. Menjadi sendiri di ttanah orang bukan perkara yang gampang. Mencari tumpuan hidup di sini sendirian bukan hal yang gampang pula. Berkali-kali saya mencoba tegar, mencoba menganggap semua baik-baik saja, menganggap semua oke. But being ignorant of my own life it just torture myself. Saya sekarang tahu mengapa orang tua saya berkali-kali melarang untuk merantau.

Yap... cerita ini dimulai ketika saya diterima menjadi salah satu staff peneliti di salah satu lembaga Negara Republik Indonesia, sebut saja LIPI )Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), sebuah tempat bergengsi, tempat berkumpulnya makhluk-makhluk Tuhan jenius dengan segala ide gemilangnya di bidang Ilmu Pengetahuan. Serangkaian tes berhasil saya ikuti dengan baik, meskipun tanpa kamu :(. Alhamdulillah... saya sekarang bekerja di sini, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. 
Gedung InaCC, Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi, LIPI
 Oke... Suatu keberuntungan saya bergabung dengan orang-orang hebat disini. Serangkaian kegiatan pun berhasil saya ikuti dengan lancar. Diantaranya Gathering Bidang Mikrobiologi, Orientasi Internal, sampai Orientasi Pusat.
Orientasi CPNS LIPI 2015, Puri Avia- Bogor
 This is it... Teman-teman bidang Mikrobiologi yang selalu menguatkan di saat lengah dan lemah. Memang benar, akan selalu ada sahabat dan kerabat baru di tempat yang baru. Ini yang saya rasakaan saat ini bersama dengan mereka.
Gathering Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi, LIPI
Bus 1 Group, Orientasi LIPI 2015
 Formasi lengkap CPNS 2015. Berada disini dengan mereka adalah suatu mimpi. Yap mimpi yang terbersit saat saya masih menyelasaikan program S1 saya. Alhamdulillah mimpi ini nyata, Tuhan. Terimakasih atas kasih sayangMu. Dan mimpi ini akan semakin nyata jika bersamamu. Masih ingat kan kita pernah bermimpi bersama di sini. Saya tidak menyalahkan keadaan atau pilihan hidupmu, tapi mimpi itu belum hilang kan???
CPNS 2015 Pusat Penelitian Biologi, LIPI
Apa yang anda lihat, apa yang kalian lihat, mungkin adalah bahagia dalam hidup saya. Memang saya beruntung berada di sini. Tapi saya belum bahagia. Sekali lagi belum bahagia, bukan berarti tidak bahagia. menjadi pura-pura tegar disini itu menyakitkan, sungguh...

Oke kita kembali ke sebelum 4 bulan yang lalu...
Saya terlahir dari keluarga yang sederhana, dengan Ayah dan Ibu yang super istimewa. Terlahir sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara, membuat saya belajar untuk lebih mandiri. Tapi nyatanya saya gagal. Bagaimana tidak, dengan memiliki orang tua istimewa seperti mereka, saya selalu dimanjakan disepanjang hidup saya. Bahkan untuk sekedar membersihkan rumah pun mungkin sangat-sangat jarang saya lalukan. Mencuci baju, mencuci piring, memasak, setrika hampir jarang saya lakukan. Orang tua saya tak pernah menuntut saya untuk melakukan hal tersebut. Saya selalu dimanjakan oleh kecukupan hidup di sepanjang usia saya sampai 24 tahun ini. Tugas saya adalah menyelesaikan tugas belajar dengan hasil maksimal, itulah goal orang tua saya. Setelah belajar, harus belajar terus. Bekerja boleh, asal bukan diniatkan untuk mencari uang semata, tapi tetap untuk belajar. 
Fine... itu hidup saya sebelum 4 bulan yang lalu. dan sekarang, kecukupan hidup saya oleh sikap orangtua saya dengan memanjakan berdampak buruk. Saya sama sekali kesulitan hidup sendirian. Dimana makan, mencuci baju, setrika, mencuci piring dan sebagainya harus saya lakukan sendirian. Menjdi pribadi yang mandiri bukan hal yang mudah, ujung-ujungnya masih sering banget nelpon sambil ngerengek minta ini itu untuk kecukupan hidup di sini. OMG... hidupku berbeda sekali...
Selama ini, saya berfikiran kalau saya ini ga boleh terlihat lemah di depan siapapun. Siapapun termasuk kedua orang tua saya. Bagi saya, pura-pura tegar adalah jalan satu-satunya. Tapi tidak demikian... Memendam sessuatu yang berat dan sendirian adalah pilihan yang buruk. Proses menjadi mandiri ini datang begitu tiba-tiba. Tidak ada tumpuan di tanah rantau, tidak ada yang peduli, dan tidak ada yang bisa bantu. Saya belum sanggup Tuhan... Saya belum sanggup. 
Lalu jika sudah seperti ini, apa yang harus saya lakukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar