Gambar 1.
Atraksi Bantengan
Festival Bantengan Nuswantara yang diadakan pada hari Minggu, 1 Juli 2012 ini merupakan salah satu agenda tahunan kota Batu sebagai wujud apresiasi kearifan lokal yang masih berkembang di kota Batu. Festival ini diikuti oleh kelompok pencak silat dari seluruh kota Batu dan Pujon. Festival ini terdiri atas 1000 banteng yang berjalan mulai dari Stadion Batu-Alun2 Batu-Balai Kota Batu. Selain itu, festival ini juga diadakan untuk memeriahkan HUT Bhayangkara di Kota Batu. Festival ini merupakan Festival internasional, dimana para wisatawan asing yang berada di Kota Batu juga menikmati atraksi budaya Bantengan ini. Sehingga, kegiatan atraksi ini dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Kota Batu.
Atraksi bantengan berbeda dengan atraksi kuda lumping yang biasa
juga terdapat di beberapa daerah. Budaya “Bantengan” ini sudah berkembang sejak
zaman penjajahan dahulu. Disebut dengan Bantengan, dikarenakan beberapa lakon
dalam atraksi ini menggunakan topeng yang bentuknya mirip dengan hewan banteng.
Topeng tersebut di isi dengan dua orang yang berada di depan dan di belakang.
Selain itu juga terdapat lakon yang berperan sebagai harimau serta beberapa
hewan lain. Dalam atraksi ini diiringi dengan musik gamelan jawa yang khas
untuk Bantengan. Musik ini sengaja dimainkan untuk memanggil makhluk harus yang
nantinya akan masuk ke dalam tubuh beberapa lakon. Apabila tubuh lakon telah
dimasuki oleh makhluk halus, maka lakon akan melakukan beberapa atraksi yang
tidak bisa dilakukan oleh manusia pada umumnya seperti memakan pecahan kaca
atau beling ataupun genteng, memakan bara api, memakan bunga, dan lain-lain. Atraksi
“Bantengan” ini biasanya diadakan di lapangan, punden, sanggar, atau di halaman
ketua dari tim Bantengan tersebut. Dahulu
Bantengan merupakan selingan di saat ada latihan pencak silat di zaman
penjajahan. Dimana bantengan ini dahulunya dijadikan sebagai salah satu siasat
bagi penduduk pribumi untuk mengumpulkan pemuda. Pemuda tersebut digunakan
untuk mengikuti latihan beladiri atau silat dalam melawan penjajah. Dan
ternyata upaya mereka berhasil, karena apabila latihan silat diketahui oleh
penjajah maka mereka akan berpura-pura Bantengan untuk menutupi kegiatan
latihan beladiri tersebut. Oleh sebab itu, kelompok bantengan ini termasuk dalam kelompok pencak silat dalam satu perguruan.
Atraksi budaya bantengan ini perlu dilestarikan karena merupakan salah satu kearifan lokal yang hanya ada di daerah tertentu, seperti halnya kesenian Reog Ponorogo. Konservasi kearifan lokal ini dilakukan supaya tidak terjadi adanya pergeseran nilai-nilai budaya dan Agama. Negara kita Indonesia sebagai salah satu negara terbesar yang memiliki warisan
kebudayaan memiliki peran yang cukup penting dalam memindahkan
unsur-unsur kebudayaan dari generasi ke generasi guna memelihara
identitas dan melawan pengaruh westernisasi yang kian gencar menyelimuti
segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan Atraksi Bantengan ini perlu dilestarikan.
Bagi yang ingin menikmati Festival Bantengan Nuswantara, silakan datang ke Kota Batu tahun mendatang pada acara International Crude Carnival Bantengan Nuswantara VI 2013. See u next year....
Bagi yang ingin menikmati Festival Bantengan Nuswantara, silakan datang ke Kota Batu tahun mendatang pada acara International Crude Carnival Bantengan Nuswantara VI 2013. See u next year....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar