Air merupakan salah satu
sumber daya alam yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, baik oleh
manusia, tumbuhan, hewan, serta makhluk hidup lainnya. Peran air dalam menjaga
keseimbangan alam sangatlah penting. Namun, seiring dengan berkembangnya
populasi makhluk hidup serta beberapa kegiatan menjadikan sumber air menjadi
menurun, sehingga dibeberapa tempat mengalami kesulitan dalam mengakses air
bersih. Kegiatan manusia cenderung menggunakan air dalam jumlah yang besar,
tetapi tidak diimbangi dengan upaya untuk mengkonservasi air bersih maupun
sumber air bersih (Ngo, 2010).
Banyaknya kegiatan industri
dan urbanisasi yang diikuti dengan pertumbuhan dari suatu populasi tertentu
merupakan suatu penyebab bumi mengalami keterbatasan sumber air bersih dan
lingkungan sekitar. Sehingga dibutuhkan suatu treatment untuk mengolah air
limbah tersebut, selama ini dilakukan treatment unconvensional. Namun, sejak
setelah adanya Rio Earth Summit pada tahun 1992 mengenai pembentukan
lingkungan yang berkelanjutan, maka konsep konservari yang berdasarkan pada recovery,
recycle, dan reuse mulai diterapkan, termasuk pada pengolahan limbah
ini (Ngo, 2010).
Air limbah perkotaan merupakan
salah satu sumber daya air yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Beberapa kendala yang sedang dihadapi saat ini adalah air limbah perkotaan
tidak memenuhi syarat kualitas air untuk berbagai keperluan. Hal ini
dikarenakan air limbah perkotaan mengandung unsur polutan yang cukup besar.
Oleh karena itu sebelum digunakan kembali (reuse) perlu dilakukan
pengolahan sampai mencapai syarat kualitas yang diperbolehkan (Annonymous 2,
2010).
Mengingat pentingnya
pengolahan air limbah untuk kebutuhan sehari-hari, maka diperlukan suatu
pengolahan air limbah untuk dapat digunakan kembali dengan menggunakan
teknologi yang tepat guna sesaui dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
Pengertian Limbah air
Limbah
air merupakan suatu sisa air dari suatu wilayah tertentu yang telah digunakan
untuk berbagai keperluan, dimana limbah tersebut harus dikumpulkan serta
dibuang untuk menjaga suatu kondisi lingkungan yang sehat serta baik khususnya
untuk kesehatan (Annonymous 2, 2010).
Dalam
aplikasinya, keberadaan limbah air ini perlu dilakukan suatu pengelolaan supaya
limbah tersebut tidak mencemari lingkungan sekitar. Apabila lingkungan sekitar
telah tercemari oleh limbah, maka akan menimbulkan beberapa dampak terhadap
beberapa aspek kehidupan. Sehingga perlu dilakukan suatu manajemen terhadap
adanya limbah air ini dengan baik. Hal ini juga berlaku pada daerah perkotaan,
dimana air limbah perkotaan merupakan seluruh buangan cair yang berasal dari
proses seluruh kegiatan yang meliputi limbah domestic cair yakni buangan kamar
mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian, limbah perkantoran, dan limbah dari
daerah komersial serta limbah industri (Annonymous 2, 2010)
Ciri-ciri Limbah
Limbah
air tidak hanya bersumber dari hasil sisa kebutuhan sehari-hari saja, akan
tetapi juga berasal dari industri ataupun beberapa kegiatan komersial lainnya.
Sehingga diperlukan suatu kategori atau ciri-ciri suatu air dapat disebut
limbah. Ciri-ciri tersebut ditentukan berdasarkan sifat fisik, kimiawi, serta
biologis dari air limbah tersebut (Ngo, 2010).
Ciri Fisik Air Limbah
Adapun ciri
fisik dari air limbah yang biasa digunakan adalah kandungan partikel padat,
warna, bau, dan suhu. Kandungan bahan padat terdiri atas bahan padat tidak
terlarut ataupun beberapa partikel padat yang mengapung serta senyawa-senyawa
lainnya yang larut di dalam air. Warna air merupakan salah satu ciri kualitatif
yang dipakai untuk mengkaji kondisi umum dari air limbah. Warna coklat muda
menunjukkan bahwa umur air kurang dari 6 jam. Warna abu-abu muda atau tua
menunjukkan bahwa air tersebut mengalami pembusukan. Warna hitam menunjukkan
bahwa air telah mengalami kondisi pembusukan oleh bakteri dalam kondisi
anaerobik. Karakteristik bau dalam penentuan karakteristik air terutama
hidrogen sulfida, satol, cadaverin, dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi
anaerobik. Air limbah biasanya memilihi suhu yang lebih tinggi dibandingkan
dengan air bersih. Suhu air limbah biasanya sangat bervariasi tergantung pada
musim, serta letak geografisnya (Ngo, 2010).
Ciri Kimia
Karakteristik
pengukuran sifat kimia antara lain ammonia bebas, nitrogen organic, nitrit,
nitrat, fosfor organic, dan fosfor anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat
penting untuk dilakukan pengukuran karana keduanya merupakan nutrient yang umum
diidentifikasi sebagai bahan untuk pertumbuhan gulma air (Ngo, 2010) .
Karakter Limbah
Berdasarkan sumber asal dari limbah, maka terdapat dua
karakter dari limbah, yaitu limbah domestik dan limbah non domestik. Limbah domestik
merupakan semua hasil sisa air yang berasal dari kamar mandi, dapur, tempat
mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga, apotik, rumah sakit, rumah makan,
dan lain-lain. Limbah tersebut secara kualitatif terdiri dari beberapa material
organik baik dalam bentuk padat maupun cair, bahan berbahaya dan beracun, garam
terlarut, dan bakteri. Sedangkan limbah non domestik sangatlah bervariasi,
khususnya untuk limbah industri, limbah pertanian dan lain-lain. Limbah
pertanian biasanya terdiri atas bahan-bahan yang bersifat organik, bahan
pemberantas hama dan penyakit atau pestisida yang mengandung nitrogen, fosfor,
sulfur, mineral, dan sebagainya (Annonymous, 2011).
Dalam aplikasi penilaian kualitas limbah terdapat suatu
istilah COD dan BOD. COD atau Chemical Oxygen Demand yang merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat
dalam 1 ml sampel air. Alam hal ini K2Cr2O7
digunakan sebagai pelarutnya. Angka COD merupakan ukuran bagi pencematan oleh
zat-zat organik yang secara alami dapat dioksidasi dan mengakibatkan
pengurangan oksigen terlarut di dalam air. Analisis BOD dan COD dari suatu
limbah akan menghasilkan nilai yang berbeda. Nilai COD selalu lebih tinggi
dibandingkan dengan BOD. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bahan
kimia yang tahan terhadap oksidasi kimia, dan lain-lain. Perubahan nilai-nilai
BOD dan COD suatu limbah akan terjadi selama penanganan. Bahan yang teroksidasi
secara biologis akan turun selama penanganan, sedangkan bahan yang tidak
teroksidasi secara biologis tetapi teroksidasi secara kimia tidak turun. Bahan
yang tidak teroksidasi secara biologis akan terdapat dalam limbah yang belum
diberi penanganan dan akan meningkat karena residu massa sel dari respirasi
endogenes. Nisbah COD dan BOD akan meningkat dengan stabilnya bahan yang
teroksidasi secara biologis.
Dampak Air Limbah
Apabila air limbah tidak diolah dengan baik, akan
berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak ini
termasuk bersifat berbahaya bagi ikan dan populasi wildlife, penurunan oksigen
terlarut, terkontaminasinya air minum, dan lain sebagainya. Pemerintah kanada
menetapkan beberapa contoh dari polutan yang dapat ditemukan dalam limbah air
dan berpotensi membahayakan terhadap ekosistem dan kesehatan manusia,
diantaranya adalah (Perlman, 2012):
- Kurangnya
komponen organik dapat meningkatkan oksigen tak larut sehingga beberapa ikan
dan biota air tidak dapat survive
- Fosfat
dan nitrogen dapat menyebabkan eutrofikasi dan dapat bersifat toksis bagi
organisme dan dapat mereduksi kandungan oksigen.
- Kandungan
klorin dan kloramin anorganik dapat menjadi toksik bagi invertebrate air, alga,
dan ikan
- Bakteri,
virus, dan beberapa pathogen penyebab penyakin dapat mencemari populasi
kerang-kerangan, konsumsi air minum, dan konsumsi dari kerang itu sendiri
- Logam
berat seperti merkuri, cadmium, chromium, dan arsenic dapat bersifat toksik
akut dan toksik kronis bagi spesies
- Substansi
lain seperti produk farmasi dan kesehatan, secara langsung akan masuk pada
lingkungan air limbah yang juga akan mempengaruhi kesehatan manusia, kehidupan
air, dan satwa langka.
Pengelolaan air limbah sangatlah diperlukan sebagai
bentuk pembangunan berkelanjutan. Tujuan dari pengolahan air limbah ini dalam
rangka untuk menjaga kualitas lingkungan bagi penerima air seperti sungai,
sehingga air limbah yang dibuang ke sungai tersebut memenuhi baku mutu yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Secara umum penanganan air limbah dapat
dikelompokkan menjadi lima bagian utama, yaitu (Metcalf, 1972):
1. Pengolahan
Awal (Prelimitary Treatment)
Pengolahan awal ini
bertujuan untuk melindungi alat-alat yang terdapat pada instalasi
pengolahan air limbah. Pada tahapan ini
dilakukan penyaringan, penghancuran, atau pemisahan air dari partikel-partikel
yang dapat merusak alat pengolahan air limbah seperti pasir, kayu, sampah,
plastik, dan lain-lain.
2. Pengolahan
Primer (Primary Treatment)
Pengolahan ini dilakukan
untuk menghilangkan beberapa partikel padat organik melalui proses fisika yaitu
sedimentasi dan flotasi. Sehingga diharapkan partikel padat akan mengendap
sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di bagian atas atau permukaan.
3. Pengolahan
Sekunder (Secondary Treatment)
Pada tahapan sekunder ini
biasanya dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menghancurkan atau
menghilangkan material organik yang masih terdapat pada air limbah. Terdapat
tiga jenis pendekatan yang sering dilakukan yaitu fixed film, suspended film,
dan lagoon system.
4. Pengolahan
Akhir (Final treatment)
Pengolahan akhir ini
dilakukan untuk menghilangkan organisme penyebab penyakit yang terdapat pada
air, yang dapat dilakukan dengan menambahkan klorin ataupun dengan menggunanak
sinar ultraviolet.
5. Pengolahan
Lanjutan (Advance Treatment)
Pengolahan lanjutan
diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai dengan yang diinginkan,
misalnya saja menghilangkan kandungan fosfor atau ammonia dari air limbah.
Sebelum air limbah dibuang ke pembuangan
akhir hendaknya harus menjalani pengolahan terlebih dahulu, sehingga dibutuhkan
rencana pengelolaan air limbah yang baik. Tujuan dari pengelolaan air limbah
antara lain untuk mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga, melindungi
organisme yang hidup di dalam air, menghindari pencemaran tanah permukaan, dan
menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vector penyakit (Al-Kdasi,
2004).
Namun, dalam aplikasi pengelolaan limbah yang baik
sangatlah tidak mudah. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk
melakukan pengolahan air limbah supaya pengolahan tersebut tidak berdampak
buruk bagi sebagian aspek. Persyaratan tersebut antara lain sebagai berikut
(BAPEDAL JATIM, 2008):
·
Tidak mengakibatkan
kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum
·
Tidak mengakibatkan
pencemaran air permukaan
·
Tidak menimbulkan
pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air
·
Tidak dihinggapi
vector ataupun serangga yang menyebabkan penyakit
·
Harus tertutup
·
Tidak menimbulkan bau
atau aroma yang tidak sedap.
Dalam
melakukan pengolahan harus dilakukan pemilihan metode yang tepat dengan
memperhatikan kontaminan yang terdapat pada limbah tersebut dengan menggunakan
indikator yang telah ditentukan. Setelah itu baru dilihat dari berbagai aspek
seperti ekonomi, teknis, keamanan, serta kemudahan pengoperasiannya. Hendaknya
pemilihan metode haruslah tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang
akan diolah (tabel 1). Selain itu juga perlu dilakukan suatu studi kelayakan
yang bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri atas
proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah,
mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk efisiensi pengolahan
yang diharapkan serta menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan
untuk penerapan pada skala yang sebenarnya (IDEP Foendation, 2004).
Tabel
4.1. Batasan Air Limbah Untuk Industri (Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995)
Proses
pengolahan air limbah yang telah ada dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
(Ngo, 2010):
1. Proses
biologi sebagai pengolahan air limbah secara sekunder untuk menghilangkan
beberapa nutrient. Terdapat teknologi untuk menghilangkan nitrogen dari limbah
dengan menggunakan Intermittentlu Decanted Extended Aeration Lagoon (IDAL)
ataupun untuk menghilangkan kandungan fosfor dalam limbah dengan menggunakan Biologically
Enhanced Phosporus Removal (BEPR)
2. Proses
fisika-kimia seperti filtrasi membran, dimana proses pengolahan dengan proses
ini memegang peranan penting dalam teknologi pengolahan limbah khususnya reuse.
3. Proses
hybrid seperti kombinasi dari proses secara fisika-kimia dan proses secara biologi
seperti bioreactor membran.
System
pengolahan IDAL bertujuan untuk menghilangkan kandungan nitrogen dari air
limbah domestik, yang terdiri dari dua mekanisme proses. Proses pertama yaitu
nitrifikasi dari ammonia-nitrogen menjadi nitrat-nitrogen dengan memanfaatkan
bakteri nitrit seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Sedangkan
proses yang kedua yaitu denitrifikasi dari nitrat-nitrogen menjadi gas nitrogen
dalam kondisi anaerobik. Pada system IDAL ini, oksidasi biologi dan klarifikasi
dilakukan dalam tank yang sama. Terdapat tiga operasi yang dinamakan aeration,
settling, dan decantation yang dipisahkan oleh waktu dan proses ini
berupa suatu siklus. Nitrifikasi dan denitrifikasi dilakukan selama periode
aerasi dan non aerasi dari siklus. Dekantasi dari klarifikasi effluent akan
selesai dengan menurunkan outlet dari lagoon.
Suatu
penelitian juga melakukan pengolahan limbah untuk menghilangkan kandungan
fosfat dan ammonia dari limbah dengan menggunakan tanaman. Dari hasil diketahui
bahwa penerapan teknologi sederhana tersebut mampu mereduksi kandungan
ortofosfat sebesar 28%, dimana total fosfat yang berhasil dihilangkan yaitu
sebesar 15. Dimana persentase dari nitrifier dari populasi sludge aktif atau
kotoran aktif diperkirakan sebesar 1,1%. Yang diasumsikan bahwa penghilangan
fosfor terjadi pada tangki aerasi. Sedangkan pada hasil reduksi dari ammonia,
diketahui bahwa penerapan metode tersebut mampu menghilangkan ammonia secara
maksimal (Sotirakou, 1999).
Fosfor
merupakan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan biologi. Kandungan fosfor
dari biosolid dari proses pengolahan konvensional sekitar 1,5-2% dari berat
keringnya. Beberapa bakteri dari aktif sludge tidak mampu bertahan pada kondisi
anaerobic (Ngo, 2010). Adanya fosfor dalam limbah ini menyebabkan suatu proses
yang dikenal dengan istilah eutrofikasi. Hal ini dapat mereduksi air yang diterima dan
keberlanjutan reuse. Oleh karena itu, di beberapa Negara telah
diterapkan suatu standar yang diimplementasikan untuk menanggapi permasalah
fofor dalam air limbah. Metode yang digunakan untuk menghilangkan fosfor ini
didasarkan pada pengolahan secara fisika-kimia, khususnya dengan menambahkan
garam logam. Namun metode ini memiliki kekurangan yaitu membutuhkan biaya yang
tinggi khususnya dalam penggunaan bahan kimia, secara signifikan dapat
meningkatkan produksi dari logam hidroksida dan logam fosfat, serta dapat
menyebabkan akumulasi ion yang diakibatkan oleh meningkatnya kandungan garam
(Handeel, 2007).
Peraturan Pemerintah
Mengenai Pengelolaan Limbah
Berdasarkan peraturan pemerintah,
menyebutkan bahwa setiap organisasi ataupun perusahaan yang menghasilkan air
limbah dengan konsentrasi dan volume (debit) melebihi baku mutu air limbah yang
telah ditetapkan diwajibkan untuk melakukan pengolahan air limbah sebelum air limbah
tersebut dibuang ke sungai. Selain itu peraturan pemerintah juga menyebutkan
bahwa peraturan-peraturan terkait seperti Peraturan Pmemerintah tentang
pengelolaan lingkungan hidup, Peraturan Menteri Lingkungan hidup tentang AMDAL
dan UKL-UPL, limbah B3 serta Peraturan Gubernur tentang Baku Mutu Air Limbah
dan praturan lainnya sebagai acuan (Sumada, 2012).
Berdasarkan peraturan terbut sehingga semua kegiatan
ataupun usaha yang menghasilkan limbah diwajibkan untuk melalukan pengelolaan
terlebih dahulu supaya limbah yang dikeluarkan ke saluran pembuangan bersifat
aman bagi semua makhluk hidup (Sumada, 2012).
Dalam pengolahan air limbah, khususnya
limbah yang mengandung senyawa organik maka teknologi yang digunakan biasanya
dengan memanfaatkan aktifitas dari mikroorganisme untuk menguraikan senyawa
polutan organik tersebut, yang biasa dikenal dengan proses biologis. Dalam
aplikasi teknologinya bisa dilakukan dengan tiga cara yaitu aerobik dan
anaerobik, ataupun kombinasi dari keduanya.
Pembahasan ini mencoba menjelaskan mengenai desain
pengolahan air limbah dengan menggunakan Lagoon dan konstruksinya. Lagoon merupakan
alternatif yang baik untuk pengolahan air limbah dan pembuangan lainnya yang
mengandung tanah liat atau lumpur yang tinggi dengan drainase yang jelek. Pada
desain lagoon ini terdapat kombinasi proses dari fisika, biologi, dan kimia
dalam pengolahan air limbahnya. Air limbah dalam Lagoon ini secara alami
dibedakan menjadi tiga bagian yaitu aerobik, anaerobik, dan intermediet atau
campuran. Kondisi yang berbeda terdapat pada masing-masing bagian dan
pengolahan terjadi pada semua bagian tersebut. Angin dan sinar matahari pada
permukaan Lagoon memegang peranan penting dan lagoon memang didesain untuk
mengoptimalisasi efek atau dampak yang dihasilkan. Adapun lokasi dari Lagoon
ini sebaiknya lebih rendah dari rumah, sehingga air limbah dapat langsung masuk
ke dalam kolam. Namun biasanya Lagoon juga dapat berlokasi lebih tinggi dari
rumah, namun membutuhkan suatu pompa untuk menekan air limbah supaya dapat naik
dan masuk ke dalam kolam yang telah dibuat. Jika lokasi Lagoon lebih tinggi
dari rumah akan membutuhkan suatu energi agar air limbah dapat masuk ke kolam
yang disediakan, dan biasanya dengan menggunakan suatu pompa.
Gambar Proses Pengolahan Air Limbah dengan Desain Lagoon (Hygstrom, 2010)
Dari gambar di atas dapat kita ketahui bahwa dalam proses
pengolahan air limbah membututuhkan kondisi aerobik dan anaerobik. Keberadaan
oksigen dapat memanfaatkan bakteri untuk mereduksi fosfat dan ammonia yang juga
dibantu oleh peran dari alga. Pada kondisi anaerobik terdapat perubahan
ntrit-nitrogen menjadi gas nitrogen yang langsung dapat dilepaskan di udara.
Angin disini dibutuhkan untuk pergerakan air, sedangkan cahaya matahari
dibutuhkan untuk proses evaporasi dari air limbah yang telah mengalami
pengolahan. Pada desain ini sludge atau tanah liat berada pada dasar dari
lagoon.
Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan
lagoon atau kolam ini prinsipnya dengan menampung air limbah pada suatu kolam
yang telah dibuat dengan ukuran yang cukup luas dengan waktu tinggal yang cukup
lama sehingga aktifitas mikrorganisme yang tumbuh dan digunakan secara alami,
senyawa polutan yang ada pada air limbah dapat terurai. Biasanya untuk
mempercepat proses penguraian serta untuk mempersingkat waktu dilakukan proses
aerasi. Salah satu caranya adalah dengan kolam aerasi atau kolam stabilisasi.
Proses dengan system lagoon tersebut kadang-kadang dikategorikan sebagai proses
biologis dengan biakan tersuspensi.
Untuk keamanan dari Lagoon terhadap lingkungan dan
kesehatan manusia, maka diperlukan suatu desain jarak antara lagoon dengan
beberapa site tertentu, seperti jarak lagoon dengan air permukaan sebesar 50 kaki,
jarak dengan sumur pribadi sebesar 100 kaki, jarak dengan sumur umum dengan
system nonkomunitas sebesar 100 kaki, jarak dengan sumur umum komunitas sebesar
500 kaki, jarak dengan pohon 50 kaki, dan lain-lain.
Untuk memilih jenis teknologi atau proses yang akan digunakan untuk
pengolahn air limbah harus memperhatikan karakteristik air limbah, jumlah
limbah serta standar kualitas air olahan yang didapatkan. Pemilihan teknologi
pengolahan air limbah tersebut harus mempertimbangkan beberapa hal termasuk juga
kemudahan dalam hal pengelolaan, ketersediaan lahan dan sumber energi, serta
biaya operasi dan perawatan, dimana kebanyakan berupaya biaya perawatan yang
serendah mungkin. Pada setiap jenis teknologi yang diterapkan pasti memiliki
keunggulan dan kekurangan masing-masing yang tidak sama antara satu teknologi
dengan teknologi yang lainnya. Pemilihan teknologi tersebut juga harus
memperhatikan aspek teknis, aspek ekonomis, dan aspek lingkungan serta sumber
daya manusia yang akan mengelola fasilitas tersebut.
REFERENSI
Al-Kdasi,
A., Idris, A., Saed, K., Guan, C. T. 2004. Treatment of Textile of Wastewater
By Advance Oxidation process- A Review. Global Nest: Int J. 6 (3): 222-230
Annonymous
2, 2010. Pengolahan Air Limbah Domestik. Universitas Sumatera Utara.
Annonymous.
2011. Wastewater Treatment. Natural Resoursces Management and Environtment
Departement. www.fao.org%2Fdocrep%2Ft0551e%2Ft0551e05.htm%233.1%2520the%2520problem.
Diakses tanggal 9 Juni 2012
Badan
Lingkungan Hidup. 2011. Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Lingkungan. http://lh.malangkab.go.id/index.php?kode=1.
Diakses tanggal 9 Juni 2012
BAPEDAL
PROV JATIM. 2008. Petunjuk teknis Pembuatan Sumur Resapan. BAPEDAL Provinsi
Jawa Timur
Handeel,
V. A dan Lubbe, J. V. D. 2007. Phosphorous Removal. Handbook Biological
Wastewater Treatment-Design of Activated Sludge. www.wastewaterhandbook.com%2Findex.htm.
Diakses tanggal 9 Juni 2012
Hygstrom,
J. R., Skipron, S. O., Woldt, W. E. 2010. Residential Onsite Wastewater
Treatment: Lagoon Design and Treatment. NebGuide. University Of
Nebraska,-Lincpln Extention., Institute of Agriculture and Natural Resources.
IDEP
Foundation. 2004. Manual Mendesain dan Konstruksi Wastewater gardens. Proyek
Bersama IDEP Foundation/PCRF
Metcalf
dan Eddy. 1972) Wastewater Engineering. McGraw-Hill Book
Company. New York
Ngo,
H. H., dan Vigneswaran, S. 2010. Advance Treatment Technologies for Recycle/Reuse
Of Domestic Wastewater. Wastewater Recycle, reuse, and Reclamation Vol 1.
Penumbra
Marine Logistic. 2012. Marine Dragonfly Wastewater TreatmentSystem. www.dragonflymarine.com%2F.
Diakses tanggal 9 Juni 2012
Perlman,
H. 2012. Wastewater Treatment, Water Use. Departement of Interior. US
Raka,
I. D. G. 2010, Perspektif Pengembangan Manajemen Pemasaran Sayuran di Bali:
Kasus di Desa Pancasari Kabupaten Buleleng. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Bali
Sotirakou,
E., Kladitis, G., Diamantis, N., dan Grigoloupolou, H. 1999. Amonia and
Phosphorous Removal in Municipal Wastewater Treatment Plant With Extended
Aeration. Global Nest: The International Journal 1(1): 47-53
Sumada,
K. 2012. Pengolahan Air Limbah Laboratorium secara Kimia dan Fisika. Jurusan
Teknik Kimia. UniversitasPembangunan Nasional Jawa Timur.
Wisegeek.
2010. Environmental Management. http://topics.wisegeek.com/topics/environmental-management.htm#a=69083&t=default&k=Environmental%20Management&b=1&p=0.
Diakses tanggal 9 Juni 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar