Senin, 02 Juli 2012

MANAJEMEN LINGKUNGAN “Pengelolaan Air Limbah Domestik dengan Desain Lagoon”


Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, baik oleh manusia, tumbuhan, hewan, serta makhluk hidup lainnya. Peran air dalam menjaga keseimbangan alam sangatlah penting. Namun, seiring dengan berkembangnya populasi makhluk hidup serta beberapa kegiatan menjadikan sumber air menjadi menurun, sehingga dibeberapa tempat mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih. Kegiatan manusia cenderung menggunakan air dalam jumlah yang besar, tetapi tidak diimbangi dengan upaya untuk mengkonservasi air bersih maupun sumber air bersih (Ngo, 2010).
Banyaknya kegiatan industri dan urbanisasi yang diikuti dengan pertumbuhan dari suatu populasi tertentu merupakan suatu penyebab bumi mengalami keterbatasan sumber air bersih dan lingkungan sekitar. Sehingga dibutuhkan suatu treatment untuk mengolah air limbah tersebut, selama ini dilakukan treatment unconvensional. Namun, sejak setelah adanya Rio Earth Summit pada tahun 1992 mengenai pembentukan lingkungan yang berkelanjutan, maka konsep konservari yang berdasarkan pada recovery, recycle, dan reuse mulai diterapkan, termasuk pada pengolahan limbah ini (Ngo, 2010).
Air limbah perkotaan merupakan salah satu sumber daya air yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Beberapa kendala yang sedang dihadapi saat ini adalah air limbah perkotaan tidak memenuhi syarat kualitas air untuk berbagai keperluan. Hal ini dikarenakan air limbah perkotaan mengandung unsur polutan yang cukup besar. Oleh karena itu sebelum digunakan kembali (reuse) perlu dilakukan pengolahan sampai mencapai syarat kualitas yang diperbolehkan (Annonymous 2, 2010).
Mengingat pentingnya pengolahan air limbah untuk kebutuhan sehari-hari, maka diperlukan suatu pengolahan air limbah untuk dapat digunakan kembali dengan menggunakan teknologi yang tepat guna sesaui dengan karakteristik limbah yang akan diolah.

Pengertian Limbah air
            Limbah air merupakan suatu sisa air dari suatu wilayah tertentu yang telah digunakan untuk berbagai keperluan, dimana limbah tersebut harus dikumpulkan serta dibuang untuk menjaga suatu kondisi lingkungan yang sehat serta baik khususnya untuk kesehatan (Annonymous 2, 2010).
            Dalam aplikasinya, keberadaan limbah air ini perlu dilakukan suatu pengelolaan supaya limbah tersebut tidak mencemari lingkungan sekitar. Apabila lingkungan sekitar telah tercemari oleh limbah, maka akan menimbulkan beberapa dampak terhadap beberapa aspek kehidupan. Sehingga perlu dilakukan suatu manajemen terhadap adanya limbah air ini dengan baik. Hal ini juga berlaku pada daerah perkotaan, dimana air limbah perkotaan merupakan seluruh buangan cair yang berasal dari proses seluruh kegiatan yang meliputi limbah domestic cair yakni buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian, limbah perkantoran, dan limbah dari daerah komersial serta limbah industri (Annonymous 2, 2010)
           
Ciri-ciri Limbah
            Limbah air tidak hanya bersumber dari hasil sisa kebutuhan sehari-hari saja, akan tetapi juga berasal dari industri ataupun beberapa kegiatan komersial lainnya. Sehingga diperlukan suatu kategori atau ciri-ciri suatu air dapat disebut limbah. Ciri-ciri tersebut ditentukan berdasarkan sifat fisik, kimiawi, serta biologis dari air limbah tersebut (Ngo, 2010).
 Ciri Fisik Air Limbah
Adapun ciri fisik dari air limbah yang biasa digunakan adalah kandungan partikel padat, warna, bau, dan suhu. Kandungan bahan padat terdiri atas bahan padat tidak terlarut ataupun beberapa partikel padat yang mengapung serta senyawa-senyawa lainnya yang larut di dalam air. Warna air merupakan salah satu ciri kualitatif yang dipakai untuk mengkaji kondisi umum dari air limbah. Warna coklat muda menunjukkan bahwa umur air kurang dari 6 jam. Warna abu-abu muda atau tua menunjukkan bahwa air tersebut mengalami pembusukan. Warna hitam menunjukkan bahwa air telah mengalami kondisi pembusukan oleh bakteri dalam kondisi anaerobik. Karakteristik bau dalam penentuan karakteristik air terutama hidrogen sulfida, satol, cadaverin, dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi anaerobik. Air limbah biasanya memilihi suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan air bersih. Suhu air limbah biasanya sangat bervariasi tergantung pada musim, serta letak geografisnya (Ngo, 2010).

Ciri Kimia
      Karakteristik pengukuran sifat kimia antara lain ammonia bebas, nitrogen organic, nitrit, nitrat, fosfor organic, dan fosfor anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat penting untuk dilakukan pengukuran karana keduanya merupakan nutrient yang umum diidentifikasi sebagai bahan untuk pertumbuhan gulma air (Ngo, 2010) .

Karakter Limbah
            Berdasarkan sumber asal dari limbah, maka terdapat dua karakter dari limbah, yaitu limbah domestik dan limbah non domestik. Limbah domestik merupakan semua hasil sisa air yang berasal dari kamar mandi, dapur, tempat mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga, apotik, rumah sakit, rumah makan, dan lain-lain. Limbah tersebut secara kualitatif terdiri dari beberapa material organik baik dalam bentuk padat maupun cair, bahan berbahaya dan beracun, garam terlarut, dan bakteri. Sedangkan limbah non domestik sangatlah bervariasi, khususnya untuk limbah industri, limbah pertanian dan lain-lain. Limbah pertanian biasanya terdiri atas bahan-bahan yang bersifat organik, bahan pemberantas hama dan penyakit atau pestisida yang mengandung nitrogen, fosfor, sulfur, mineral, dan sebagainya (Annonymous, 2011).        
            Dalam aplikasi penilaian kualitas limbah terdapat suatu istilah COD dan BOD. COD atau Chemical Oxygen Demand yang merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam 1 ml sampel air. Alam hal ini K2Cr2O7 digunakan sebagai pelarutnya. Angka COD merupakan ukuran bagi pencematan oleh zat-zat organik yang secara alami dapat dioksidasi dan mengakibatkan pengurangan oksigen terlarut di dalam air. Analisis BOD dan COD dari suatu limbah akan menghasilkan nilai yang berbeda. Nilai COD selalu lebih tinggi dibandingkan dengan BOD. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi kimia, dan lain-lain. Perubahan nilai-nilai BOD dan COD suatu limbah akan terjadi selama penanganan. Bahan yang teroksidasi secara biologis akan turun selama penanganan, sedangkan bahan yang tidak teroksidasi secara biologis tetapi teroksidasi secara kimia tidak turun. Bahan yang tidak teroksidasi secara biologis akan terdapat dalam limbah yang belum diberi penanganan dan akan meningkat karena residu massa sel dari respirasi endogenes. Nisbah COD dan BOD akan meningkat dengan stabilnya bahan yang teroksidasi secara biologis.

Dampak Air Limbah
            Apabila air limbah tidak diolah dengan baik, akan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak ini termasuk bersifat berbahaya bagi ikan dan populasi wildlife, penurunan oksigen terlarut, terkontaminasinya air minum, dan lain sebagainya. Pemerintah kanada menetapkan beberapa contoh dari polutan yang dapat ditemukan dalam limbah air dan berpotensi membahayakan terhadap ekosistem dan kesehatan manusia, diantaranya adalah (Perlman, 2012):
-       Kurangnya komponen organik dapat meningkatkan oksigen tak larut sehingga beberapa ikan dan biota air tidak dapat survive
-       Fosfat dan nitrogen dapat menyebabkan eutrofikasi dan dapat bersifat toksis bagi organisme dan dapat mereduksi kandungan oksigen.
-       Kandungan klorin dan kloramin anorganik dapat menjadi toksik bagi invertebrate air, alga, dan ikan
-       Bakteri, virus, dan beberapa pathogen penyebab penyakin dapat mencemari populasi kerang-kerangan, konsumsi air minum, dan konsumsi dari kerang itu sendiri
-       Logam berat seperti merkuri, cadmium, chromium, dan arsenic dapat bersifat toksik akut dan toksik kronis bagi spesies
-       Substansi lain seperti produk farmasi dan kesehatan, secara langsung akan masuk pada lingkungan air limbah yang juga akan mempengaruhi kesehatan manusia, kehidupan air, dan satwa langka.



Pengelolaan Air Limbah
            Pengelolaan air limbah sangatlah diperlukan sebagai bentuk pembangunan berkelanjutan. Tujuan dari pengolahan air limbah ini dalam rangka untuk menjaga kualitas lingkungan bagi penerima air seperti sungai, sehingga air limbah yang dibuang ke sungai tersebut memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan menjadi lima bagian utama, yaitu (Metcalf, 1972):
 1.    Pengolahan Awal (Prelimitary Treatment)
Pengolahan awal ini bertujuan untuk melindungi alat-alat yang terdapat pada instalasi pengolahan  air limbah. Pada tahapan ini dilakukan penyaringan, penghancuran, atau pemisahan air dari partikel-partikel yang dapat merusak alat pengolahan air limbah seperti pasir, kayu, sampah, plastik, dan lain-lain.
2.    Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Pengolahan ini dilakukan untuk menghilangkan beberapa partikel padat organik melalui proses fisika yaitu sedimentasi dan flotasi. Sehingga diharapkan partikel padat akan mengendap sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di bagian atas atau permukaan.
3.    Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Pada tahapan sekunder ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menghancurkan atau menghilangkan material organik yang masih terdapat pada air limbah. Terdapat tiga jenis pendekatan yang sering dilakukan yaitu fixed film, suspended film, dan lagoon system.
4.    Pengolahan Akhir (Final treatment)
Pengolahan akhir ini dilakukan untuk menghilangkan organisme penyebab penyakit yang terdapat pada air, yang dapat dilakukan dengan menambahkan klorin ataupun dengan menggunanak sinar ultraviolet.
5.    Pengolahan Lanjutan (Advance Treatment)
Pengolahan lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai dengan yang diinginkan, misalnya saja menghilangkan kandungan fosfor atau ammonia dari air limbah.
                        Sebelum air limbah dibuang ke pembuangan akhir hendaknya harus menjalani pengolahan terlebih dahulu, sehingga dibutuhkan rencana pengelolaan air limbah yang baik. Tujuan dari pengelolaan air limbah antara lain untuk mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga, melindungi organisme yang hidup di dalam air, menghindari pencemaran tanah permukaan, dan menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vector penyakit (Al-Kdasi, 2004).
            Namun, dalam aplikasi pengelolaan limbah yang baik sangatlah tidak mudah. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk melakukan pengolahan air limbah supaya pengolahan tersebut tidak berdampak buruk bagi sebagian aspek. Persyaratan tersebut antara lain sebagai berikut (BAPEDAL JATIM, 2008):
·         Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum
·         Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan
·         Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air
·         Tidak dihinggapi vector ataupun serangga yang menyebabkan penyakit
·         Harus tertutup
·         Tidak menimbulkan bau atau aroma yang tidak sedap.

Dalam melakukan pengolahan harus dilakukan pemilihan metode yang tepat dengan memperhatikan kontaminan yang terdapat pada limbah tersebut dengan menggunakan indikator yang telah ditentukan. Setelah itu baru dilihat dari berbagai aspek seperti ekonomi, teknis, keamanan, serta kemudahan pengoperasiannya. Hendaknya pemilihan metode haruslah tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah (tabel 1). Selain itu juga perlu dilakukan suatu studi kelayakan yang bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri atas proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah, mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk efisiensi pengolahan yang diharapkan serta menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan pada skala yang sebenarnya (IDEP Foendation, 2004).
 Tabel 4.1. Batasan Air Limbah Untuk Industri (Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995)


Proses pengolahan air limbah yang telah ada dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu (Ngo, 2010):
1.    Proses biologi sebagai pengolahan air limbah secara sekunder untuk menghilangkan beberapa nutrient. Terdapat teknologi untuk menghilangkan nitrogen dari limbah dengan menggunakan Intermittentlu Decanted Extended Aeration Lagoon (IDAL) ataupun untuk menghilangkan kandungan fosfor dalam limbah dengan menggunakan Biologically Enhanced Phosporus Removal (BEPR)

2.    Proses fisika-kimia seperti filtrasi membran, dimana proses pengolahan dengan proses ini memegang peranan penting dalam teknologi pengolahan limbah khususnya reuse.
3.    Proses hybrid seperti kombinasi dari proses secara fisika-kimia dan proses secara biologi seperti bioreactor membran.

System pengolahan IDAL bertujuan untuk menghilangkan kandungan nitrogen dari air limbah domestik, yang terdiri dari dua mekanisme proses. Proses pertama yaitu nitrifikasi dari ammonia-nitrogen menjadi nitrat-nitrogen dengan memanfaatkan bakteri nitrit seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Sedangkan proses yang kedua yaitu denitrifikasi dari nitrat-nitrogen menjadi gas nitrogen dalam kondisi anaerobik. Pada system IDAL ini, oksidasi biologi dan klarifikasi dilakukan dalam tank yang sama. Terdapat tiga operasi yang dinamakan aeration, settling, dan decantation yang dipisahkan oleh waktu dan proses ini berupa suatu siklus. Nitrifikasi dan denitrifikasi dilakukan selama periode aerasi dan non aerasi dari siklus. Dekantasi dari klarifikasi effluent akan selesai dengan menurunkan outlet dari lagoon.
Suatu penelitian juga melakukan pengolahan limbah untuk menghilangkan kandungan fosfat dan ammonia dari limbah dengan menggunakan tanaman. Dari hasil diketahui bahwa penerapan teknologi sederhana tersebut mampu mereduksi kandungan ortofosfat sebesar 28%, dimana total fosfat yang berhasil dihilangkan yaitu sebesar 15. Dimana persentase dari nitrifier dari populasi sludge aktif atau kotoran aktif diperkirakan sebesar 1,1%. Yang diasumsikan bahwa penghilangan fosfor terjadi pada tangki aerasi. Sedangkan pada hasil reduksi dari ammonia, diketahui bahwa penerapan metode tersebut mampu menghilangkan ammonia secara maksimal (Sotirakou, 1999).
Fosfor merupakan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan biologi. Kandungan fosfor dari biosolid dari proses pengolahan konvensional sekitar 1,5-2% dari berat keringnya. Beberapa bakteri dari aktif sludge tidak mampu bertahan pada kondisi anaerobic (Ngo, 2010). Adanya fosfor dalam limbah ini menyebabkan suatu proses yang dikenal dengan istilah eutrofikasi.  Hal ini dapat mereduksi air yang diterima dan keberlanjutan reuse. Oleh karena itu, di beberapa Negara telah diterapkan suatu standar yang diimplementasikan untuk menanggapi permasalah fofor dalam air limbah. Metode yang digunakan untuk menghilangkan fosfor ini didasarkan pada pengolahan secara fisika-kimia, khususnya dengan menambahkan garam logam. Namun metode ini memiliki kekurangan yaitu membutuhkan biaya yang tinggi khususnya dalam penggunaan bahan kimia, secara signifikan dapat meningkatkan produksi dari logam hidroksida dan logam fosfat, serta dapat menyebabkan akumulasi ion yang diakibatkan oleh meningkatnya kandungan garam (Handeel, 2007).

Peraturan Pemerintah Mengenai Pengelolaan Limbah
            Berdasarkan peraturan pemerintah, menyebutkan bahwa setiap organisasi ataupun perusahaan yang menghasilkan air limbah dengan konsentrasi dan volume (debit) melebihi baku mutu air limbah yang telah ditetapkan diwajibkan untuk melakukan pengolahan air limbah sebelum air limbah tersebut dibuang ke sungai. Selain itu peraturan pemerintah juga menyebutkan bahwa peraturan-peraturan terkait seperti Peraturan Pmemerintah tentang pengelolaan lingkungan hidup, Peraturan Menteri Lingkungan hidup tentang AMDAL dan UKL-UPL, limbah B3 serta Peraturan Gubernur tentang Baku Mutu Air Limbah dan praturan lainnya sebagai acuan (Sumada, 2012).
            Berdasarkan peraturan terbut sehingga semua kegiatan ataupun usaha yang menghasilkan limbah diwajibkan untuk melalukan pengelolaan terlebih dahulu supaya limbah yang dikeluarkan ke saluran pembuangan bersifat aman bagi semua makhluk hidup (Sumada, 2012).

            Dalam pengolahan air limbah, khususnya limbah yang mengandung senyawa organik maka teknologi yang digunakan biasanya dengan memanfaatkan aktifitas dari mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan organik tersebut, yang biasa dikenal dengan proses biologis. Dalam aplikasi teknologinya bisa dilakukan dengan tiga cara yaitu aerobik dan anaerobik, ataupun kombinasi dari keduanya.
            Pembahasan ini mencoba menjelaskan mengenai desain pengolahan air limbah dengan menggunakan Lagoon dan konstruksinya. Lagoon merupakan alternatif yang baik untuk pengolahan air limbah dan pembuangan lainnya yang mengandung tanah liat atau lumpur yang tinggi dengan drainase yang jelek. Pada desain lagoon ini terdapat kombinasi proses dari fisika, biologi, dan kimia dalam pengolahan air limbahnya. Air limbah dalam Lagoon ini secara alami dibedakan menjadi tiga bagian yaitu aerobik, anaerobik, dan intermediet atau campuran. Kondisi yang berbeda terdapat pada masing-masing bagian dan pengolahan terjadi pada semua bagian tersebut. Angin dan sinar matahari pada permukaan Lagoon memegang peranan penting dan lagoon memang didesain untuk mengoptimalisasi efek atau dampak yang dihasilkan. Adapun lokasi dari Lagoon ini sebaiknya lebih rendah dari rumah, sehingga air limbah dapat langsung masuk ke dalam kolam. Namun biasanya Lagoon juga dapat berlokasi lebih tinggi dari rumah, namun membutuhkan suatu pompa untuk menekan air limbah supaya dapat naik dan masuk ke dalam kolam yang telah dibuat. Jika lokasi Lagoon lebih tinggi dari rumah akan membutuhkan suatu energi agar air limbah dapat masuk ke kolam yang disediakan, dan biasanya dengan menggunakan suatu pompa.

Gambar  Proses Pengolahan Air Limbah dengan Desain Lagoon (Hygstrom, 2010)

            Dari gambar di atas dapat kita ketahui bahwa dalam proses pengolahan air limbah membututuhkan kondisi aerobik dan anaerobik. Keberadaan oksigen dapat memanfaatkan bakteri untuk mereduksi fosfat dan ammonia yang juga dibantu oleh peran dari alga. Pada kondisi anaerobik terdapat perubahan ntrit-nitrogen menjadi gas nitrogen yang langsung dapat dilepaskan di udara. Angin disini dibutuhkan untuk pergerakan air, sedangkan cahaya matahari dibutuhkan untuk proses evaporasi dari air limbah yang telah mengalami pengolahan. Pada desain ini sludge atau tanah liat berada pada dasar dari lagoon.
            Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan lagoon atau kolam ini prinsipnya dengan menampung air limbah pada suatu kolam yang telah dibuat dengan ukuran yang cukup luas dengan waktu tinggal yang cukup lama sehingga aktifitas mikrorganisme yang tumbuh dan digunakan secara alami, senyawa polutan yang ada pada air limbah dapat terurai. Biasanya untuk mempercepat proses penguraian serta untuk mempersingkat waktu dilakukan proses aerasi. Salah satu caranya adalah dengan kolam aerasi atau kolam stabilisasi. Proses dengan system lagoon tersebut kadang-kadang dikategorikan sebagai proses biologis dengan biakan tersuspensi.
            Untuk keamanan dari Lagoon terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, maka diperlukan suatu desain jarak antara lagoon dengan beberapa site tertentu, seperti jarak lagoon dengan air permukaan sebesar 50 kaki, jarak dengan sumur pribadi sebesar 100 kaki, jarak dengan sumur umum dengan system nonkomunitas sebesar 100 kaki, jarak dengan sumur umum komunitas sebesar 500 kaki, jarak dengan pohon 50 kaki, dan lain-lain.
            Untuk memilih jenis teknologi atau proses yang akan digunakan untuk pengolahn air limbah harus memperhatikan karakteristik air limbah, jumlah limbah serta standar kualitas air olahan yang didapatkan. Pemilihan teknologi pengolahan air limbah tersebut harus mempertimbangkan beberapa hal termasuk juga kemudahan dalam hal pengelolaan, ketersediaan lahan dan sumber energi, serta biaya operasi dan perawatan, dimana kebanyakan berupaya biaya perawatan yang serendah mungkin. Pada setiap jenis teknologi yang diterapkan pasti memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing yang tidak sama antara satu teknologi dengan teknologi yang lainnya. Pemilihan teknologi tersebut juga harus memperhatikan aspek teknis, aspek ekonomis, dan aspek lingkungan serta sumber daya manusia yang akan mengelola fasilitas tersebut.
REFERENSI
Al-Kdasi, A., Idris, A., Saed, K., Guan, C. T. 2004. Treatment of Textile of Wastewater By Advance Oxidation process- A Review. Global Nest: Int J. 6 (3): 222-230
Annonymous 2, 2010. Pengolahan Air Limbah Domestik. Universitas Sumatera Utara.
Annonymous. 2011. Wastewater Treatment. Natural Resoursces Management and Environtment Departement. www.fao.org%2Fdocrep%2Ft0551e%2Ft0551e05.htm%233.1%2520the%2520problem. Diakses tanggal 9 Juni 2012
Badan Lingkungan Hidup. 2011. Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Lingkungan. http://lh.malangkab.go.id/index.php?kode=1. Diakses tanggal 9 Juni 2012
BAPEDAL PROV JATIM. 2008. Petunjuk teknis Pembuatan Sumur Resapan. BAPEDAL Provinsi Jawa Timur
Handeel, V. A dan Lubbe, J. V. D. 2007. Phosphorous Removal. Handbook Biological Wastewater Treatment-Design of Activated Sludge. www.wastewaterhandbook.com%2Findex.htm. Diakses tanggal 9 Juni 2012
Hygstrom, J. R., Skipron, S. O., Woldt, W. E. 2010. Residential Onsite Wastewater Treatment: Lagoon Design and Treatment. NebGuide. University Of Nebraska,-Lincpln Extention., Institute of Agriculture and Natural Resources.
IDEP Foundation. 2004. Manual Mendesain dan Konstruksi Wastewater gardens. Proyek Bersama IDEP Foundation/PCRF
Metcalf dan  Eddy.  1972) Wastewater Engineering. McGraw-Hill Book Company. New York
Ngo, H. H., dan Vigneswaran, S. 2010. Advance Treatment Technologies for Recycle/Reuse Of Domestic Wastewater. Wastewater Recycle, reuse, and Reclamation Vol 1.
Penumbra Marine Logistic. 2012. Marine Dragonfly Wastewater TreatmentSystem. www.dragonflymarine.com%2F. Diakses tanggal 9 Juni 2012
Perlman, H. 2012. Wastewater Treatment, Water Use. Departement of Interior. US
Raka, I. D. G. 2010, Perspektif Pengembangan Manajemen Pemasaran Sayuran di Bali: Kasus di Desa Pancasari Kabupaten Buleleng. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Bali
Sotirakou, E., Kladitis, G., Diamantis, N., dan Grigoloupolou, H. 1999. Amonia and Phosphorous Removal in Municipal Wastewater Treatment Plant With Extended Aeration. Global Nest: The International Journal 1(1): 47-53
Sumada, K. 2012. Pengolahan Air Limbah Laboratorium secara Kimia dan Fisika. Jurusan Teknik Kimia. UniversitasPembangunan Nasional Jawa Timur.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar