Indonesia merupakan
Negara agraris dengan total luas area sebesar 5,193,250 km2 yang
terdiri atas 2,027,087 km2 dataran dan 3,166,163 km2
perairan. Salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia adalah di bidang
pertanian. Terutama di daerah malang yang memiliki ketersediaan lahan pertanian
yang cukup tinggi, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan sayur-sayuran dan
buah-buahan. Sehingga dibutuhkan suatu strategi pembangunan pertanian dalam
jangka panjang dengan tujuan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju, dan
efisien. Salah satu prioritas yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
adalah usaha pengembangan komoditas hortikultura. Prospek pengembangannya masih
terbuka, karena masih banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal.
Adanya permintaan sayuran, baik untuk kebutuhan pariwisata, maupun konsumsi
masyarakat semakin meningkat (Annonymous, 2009).
Daerah Malang memiliki
potensi pasar komoditas sayuran yang cukup besar. Potensi tersebut dapat
ditingkatkan kembali dengan perkembangan pariwisata, peningkatan kesadaran dan
prilaku konsumsi masyarakat serta adanya usaha pengolahan yang memungkinkan
untuk disimpan lebih lama dan dapat dikirim antar pulau. Mengingat prospek
tersebut pengembangan sentra-sentra produksi sayuran seperti daerah Tumpang dan
sekitarnya mempunyai peran penting sebagai penyedia sayuran khususnya di daerah
Malang Raya, karena mempunyai fungsi strategis baik di tingkat mikro maupun
tingkat makro. Pada tingkat mikro, usaha ini berperan sebagai sumber
penghasilan, wadah bagi petani sebagai penyedia sayuran, serta pengembangan
daya saing individu, sedangkan di tingkat makro berperan dalam penyerapan
tenaga kerja, berkontribusi terhadap pembangunan wilayah, serta sebagai
pereduksi terhadap kesenjangan (Sumardjo dkk, 2002).
Salah satu contohnya
adalah manajemen pasar sayur yang berada di daerah tumpang. Pengolahan sayuran
di pasar sayur tersebut sangatlah kompleks. Kompleksitas sistem ini akan
semakin komplek, karena melibatkan penduduk khususnya petani sebagai produsen
dan seluruh penduduk Indonesia sebagai konsumen. Kondisi ini berimplikasi
terhadap system pemasarannya pula, karena sifat produk, sistem produksi, serta
struktur dan karakteristik pasarnya yang berbeda. Dalam system tersebut tidak melibatkan
banyak pihak, karena sayuran akan dijual secara langsung oleh petani pada
distributor yang akan mendistribusikannya pada berbagai pasar di Malang raya
secara langsung. Sehingga dapat mereduksi rantai distribusi pada konsumen.
Sistem manajemen pasar
tersebut perlu dikaji lebih mendalam lagi, mengingat beberapa keuntungan yang
diperoleh baik pada petani maupun konsumen. Selain itu, manajemen tersebut
merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan yang sangat baik. Sehingga
dibutuhkan suatu perencanaan untuk mengelola pasar sayur supaya ketersediaan
sayur di daerah Malang raya tercukupi.
Pasar sayur ini
terletak di daerah tumpang kabupaten Malang. Pasar tersebut merupakan fasilitas
yang diberikan oleh pemerintah sebagai wadah jual-beli sayuran bagi petani yang
ada di daerah tumpang. Ukuran pasar ini tidak begitu luas seperti pasar pada
umumnya. Dimana pasar hanya terdiri atas sebuah bangunan terbuka sekitar 20
meter. Dengan sempitnya bangunan pasar yang disediakan mengakibatkan beberapa
orang yang membawa sayur ke lokasi tersebut berjajar disekitar area pasar.
Pasar tersebut akan dibuka mulai jam 12.00 WIB sampai 16.00 WIB.
Pasar sayur ini
menyediakan berbagai sayuran yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat seperti
bayam, kangkung, sawi, kenikir, serta kemangi. Sayuran didapatkan dari petani
secara langsung dan akan dibeli oleh distributor secara besar-besaran untuk
didistribusikan di seluruh wilayah Malang raya.

Gambar
1. Lokasi Pasar Sayur Tumpang
Dalam pasar sayur ini,
petani jarang berada langsung di lokasi pasar. Hal ini dikarenakan sayur akan
dibawa oleh seseorang menuju pasar tersebut untuk dibeli oleh distributor dari
suatu pasar dengan harga yang layak. Sehingga petani tidak merasa dirugikan,
karena mendapatkan harga sayur yang cukup tinggi dibandingkan dengan manajemen
pasar lainnya.
Adapun harga dari
ayuran yang dijual sangat bergantung pada ketersediaan sayuran dari petani.
Apabila ketersediaan sayur bayam meningkat sedangkan ketersediaan sayur sawi
menurun, maka harga sawi akan naik dari sebelumnya. Naiknya harga sayuran
tersebut sangat cepat sekali. Bisa saja pada pagi hari harga sayur sawi murah,
namun beberapa jam kemudian harga sayur sawi langsung meningkat. Meskipun harga
sayuran di pasar tersebut kurang begitu stabil, namun tidak sampai merugikan
bagi petani.
2.2 Pengertian Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan
lingkungan merupakan suatu upaya
terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi
kebijaksanaan pemanfaatan, penataan, pemeliharaan,
pengawasan, pengendalian, pemulihan, serta pengembangan lingkungan hidup.
Pengelolaan lingkungan ini dapat dilihat dari berbagai perspektif (Badan
Lingkungan Hidup, 2011). Pengelolaan lingkungan ini melibatkan manajemen pada
semua komponen lingkungan biofisik, baik komponen biotic maupun abiotik. Pengelolaan
lingkungan ini nantinya diharapkan dapat menghubungkan semua organisme hidup
dengan habitatnya. Selain itu juga melibatkan lingkungan manusia seperti
sosial, budaya, dan ekonomi dengan lingkungan biofisik (Wisegeek, 2010)
Fungsi
ekonomi dalam pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada ekosistem aslinya.
Apabila kondisi lingkungan sustainable maka akan berpengaruh juga pada sector
ekonomi, maka system tersebut akan menjadi satu dan mencapai kondisi yang
ekuilibrium antara lingkungan dengan ekonomi (Annonymous, 2009).
Pengelolaan lingkungan
sangat diperlukan agar terlaksana suatu bentuk pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan serta lingkungan dapat terus menyediakan sumber daya dan
kondisi yang diperlukan oleh makhluk hidup. Dalam pengelolaan lingkungan ini
harus memenuhi beberapa azas antara lain azaz kesejahteraan social, keuntungan
ekonomi, serta kelestarian lingkungan (Raka, 2010).
2.3 Pengelolaan Lingkungan Pasar Sayur
Di negara agraris khususnya Indonesia, pembangunan ekonomi sangat bergantung
pada pembangunan di bidang pertanian. Dalam kondisi krisis moneter yang diikuti
oleh krisis ekonomi seperti saat ini, sektor pertanian tumbuh positif sementara
sektor lainnya tumbuh negative. Kondisi ini membuktikan bahwa pembangunan
pertanian perlu terus didorong untuk mendukung keberlanjutan pembangunan
ekonomi di Indonesia (Raka, 2010).
Kondisi
pasar sayur yang berada di daerah tumpang merupakan salah satu upaya dalam
pembangunan pertanian yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembangunan
ekonomi. Dalam manajemen pasar sayur tersebut, ketersediaan sayur di setiap
harinya tidak pernah telat dalam arti ketersediaan sayuran selalu terpenuhi.
Hal ini disebabkan oleh cara bertani dari petani sekitar yang menggunakan sistem
penggiliran penanaman dan pemanenan hasil pertanian. Sehingga kebutuhan akan
sayuran selalu terpenuhi (Marsono, 1991).
System
bertani dengan menggunakan pergiliran penanaman dan pemanenan memungkinkan
petani dapat melakukan panen hasil pertaniannya setiap hari tanpa mengurangi kualitas
dari hasil panen. Sistem ini didesain untuk dapat mencukupi kebutuhan sayuran
oleh masyarakat. Dalam system ini petani akan merasa diuntungkan karena petani
dapat melakukan panen setiap harinya. Disamping itu ketersediaan fasilitas
pasar sayur yang ada di daerah Tumpang memungkinkan petani untuk segera menjual
hasil panennya seketika setelah selesai panen dilakukan. Sehingga hasil panen
dari petani dapat segera didistribusikan dengan lebih singkat dibandingkan
dengan petani yang lainnya (tanpa adanya fasilitas pasar sayur tersebut)
(Irwanto, 2005).
Keuntungan
dari diterapkannya system pertanian tersebut membawa dampak positif bagi
lingkungan, khususnya sawah milik petani. System pertanian yang
seperti itu sangat bagus, karena bisa
menghambat berkembangnya hama yang ada di area persawahaan. Selain itu, apabila
tanah sering dikelola secarah bijaksana dalam arti pengelolaan tanahnya sesuai
maka unsur hara yang berada di persawahan tersebut terjaga dan unsur biotik
yang ada di situ menjadi subur. System pertanian ini memiliki pengaruh yang
erat terhadap ketersediaan hara, penggunaan dan penyelamatan sumber daya
alam. Selain itu dalam system ini terdapat dua komponen agroforestri yang
berbeda dapat ditanam bersamaan atau bergiliran. Namun dalam pelaksanannya
harus memperhatikan ketersediaan hara dalam tanah terutama dari segi pemilihan
jenis dan pergiliran tanaman pertanian. Agar tanah tidak terkuras unsur
haranya, maka perlu dibuat pergiliran tanaman pertanian yang dikombinasikan
dengan tanaman kehutanan. Setelah beberapa kali penanaman dan panen tanaman
pertanian perlu digantikan dengan tanaman kacang-kacangan yang termasuk dalam
jenis leguminosae. Jenis ini dapat bersimbiosis dengan bakteri
penambat nitrogen untuk menyuburkan tanah kembali (Marsono, 1991).
Hanya saja
keterbatasan sayuran pada pasar kurang begitu bervariasi. Sayur yang tersedia
hanya beberapa macam saja seperti bayam, kangkung, sawi, kemangi serta kenikir
saja. Melihat potensi dari pasar sayur tersebut, menurut saya sebaiknya
ketersediaan sayur lebih ditingkatkan dalam hal keanekaragamannya, seperti
kubis, Lombok, jagung, serta berbagai macam sayur lainnya. Hal ini dikarenakan
kebutuhan masyarakat akan sayur sangat bervariasi.
Beralih pada system usaha pertanian yang ada di pasar sayur, pada pasar tersebut tidak melibatkan begitu banyak pihak dalam proses penerimaan barang dan jasa dalam arti jual belinya. Dalam arti lain pada pasar tersebut terjadi perpendekan rantai distribusi sayuran dari petani ke konsumen. Dalam hal ini petani langsung menjual sayurnya pada pasar untuk selanjutnya akan di bawa oleh distributor ke pasar yang ada d wilayah malang raya.
Beralih pada system usaha pertanian yang ada di pasar sayur, pada pasar tersebut tidak melibatkan begitu banyak pihak dalam proses penerimaan barang dan jasa dalam arti jual belinya. Dalam arti lain pada pasar tersebut terjadi perpendekan rantai distribusi sayuran dari petani ke konsumen. Dalam hal ini petani langsung menjual sayurnya pada pasar untuk selanjutnya akan di bawa oleh distributor ke pasar yang ada d wilayah malang raya.
Sistem usaha pertanian
yang melibatkan begitu banyak pihak menunjukkan kondisi yang serba lemah
terutama sekali di pihak petani. Berbagai aspek tinjauan baik dari penguasaan
sumber daya, teknologi, ketrampilan serta lemahnya jaringan pelaku, pada dasarnya
adalah fakta-fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Fokus yang berbeda, dalam
proses pemasaran dituntut harus dapat mempertemukan kepentingan dan kebutuhan
produsen dengan konsumen, yang seringkali saling bertentangan. Proses sistem
dituntut dapat mengalirkan barang atau jasa ke tangan konsumen akhir secara
efektif dan efisien, serta dapat melancarkan adanya arus informasi timbal balik
sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pelaku terkait (Raka, 2010).
Berdasarkan beberapa
penjelasan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan manajemen lingkungan
tersebut memiliki beberapa keuntungan baik bagi lingkungan maupun petani,
diantaranya adalah:
- Ketersediaan unsure hara dalam tanah tetap terjaga
- Memperpendek rantai distribusi sayur dari produsen ke konsumen
- Petani mendapatkan harga yang layak dari hasil pertaniannya, selain itu petani dapat melakukan pemanenan hasil pertaniannya setiap hari
- Kebutuhan masyarakat akan sayuran akan tetap terpenuhi karena petani menggunakan system pergiliran penanaman dan pemanenan.
Namun, manajemen
lingkungan tersebut juga memiliki kekurangan salah satunya adalah kurangnya
variasi sayuran yang tersedia di pasar, padahal kebutuhan masyarakat akan
sayuran sangatklah bervariasi. Sehingga menurut saya, solusi yang harus
diberikan adalah perlu dilakukan peningkatan keanekaragaman jenis sayuran yang
dijual pada pasar tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Annonymous.
2009. Pedoman Umum Budidaya di Lahan Pegunungan. Kementrian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia.
Badan
Lingkungan Hidup. 2011. Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Lingkungan. http://lh.malangkab.go.id/index.php?kode=1.
Diakses tanggal 21 Maret 2012
Irwanto.
2005. Agroforestri. http://www.irwantoshut.net/index.html.
Diakses tanggal 21 maret 2012
Marsono, D. 1991. Potensi dan
Kondisi Hutan Hujan Tropika Basah di Indonesia. Buletin Instiper Volume.2.
No.2. Institut Pertanian STIPER. Yogyakarta.
Raka,
I. D. G. 2010, Perspektif Pengembangan Manajemen Pemasaran Sayuran di Bali:
Kasus di Desa Pancasari Kabupaten Buleleng. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Bali
Sumardjo,
Saharuddin, dan, Nuning, Kusumowardani. 2002. Pendampingan dalam Rangka
Pemberdayaan Kelembagaan Lumbung Pangan. (Laporan Akhir). Bogor: Bagian
Proyek Pengembangan Ketahanan Pangan Masyarakat Badan Bimas Ketahanan Pangan
dan Pusat Studi Pemba-ngunan LP-IPB.
Wisegeek. 2010. Environmental Management. http://topics.wisegeek.com/topics/environmental-management.htm#a=69083&t=default&k=Environmental%20Management&b=1&p=0.
Diakses tanggal 21 maret
Tidak ada komentar:
Posting Komentar