Kamis, 05 Juli 2012

Vegetable Mark, As a Management

Indonesia merupakan Negara agraris dengan total luas area sebesar 5,193,250 km2 yang terdiri atas 2,027,087 km2 dataran dan 3,166,163 km2 perairan. Salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia adalah di bidang pertanian. Terutama di daerah malang yang memiliki ketersediaan lahan pertanian yang cukup tinggi, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan sayur-sayuran dan buah-buahan. Sehingga dibutuhkan suatu strategi pembangunan pertanian dalam jangka panjang dengan tujuan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju, dan efisien. Salah satu prioritas yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah usaha pengembangan komoditas hortikultura. Prospek pengembangannya masih terbuka, karena masih banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Adanya permintaan sayuran, baik untuk kebutuhan pariwisata, maupun konsumsi masyarakat semakin meningkat (Annonymous, 2009).
Daerah Malang memiliki potensi pasar komoditas sayuran yang cukup besar. Potensi tersebut dapat ditingkatkan kembali dengan perkembangan pariwisata, peningkatan kesadaran dan prilaku konsumsi masyarakat serta adanya usaha pengolahan yang memungkinkan untuk disimpan lebih lama dan dapat dikirim antar pulau. Mengingat prospek tersebut pengembangan sentra-sentra produksi sayuran seperti daerah Tumpang dan sekitarnya mempunyai peran penting sebagai penyedia sayuran khususnya di daerah Malang Raya, karena mempunyai fungsi strategis baik di tingkat mikro maupun tingkat makro. Pada tingkat mikro, usaha ini berperan sebagai sumber penghasilan, wadah bagi petani sebagai penyedia sayuran, serta pengembangan daya saing individu, sedangkan di tingkat makro berperan dalam penyerapan tenaga kerja, berkontribusi terhadap pembangunan wilayah, serta sebagai pereduksi terhadap kesenjangan (Sumardjo dkk, 2002).
Salah satu contohnya adalah manajemen pasar sayur yang berada di daerah tumpang. Pengolahan sayuran di pasar sayur tersebut sangatlah kompleks. Kompleksitas sistem ini akan semakin komplek, karena melibatkan penduduk khususnya petani sebagai produsen dan seluruh penduduk Indonesia sebagai konsumen. Kondisi ini berimplikasi terhadap system pemasarannya pula, karena sifat produk, sistem produksi, serta struktur dan karakteristik pasarnya yang berbeda. Dalam system tersebut tidak melibatkan banyak pihak, karena sayuran akan dijual secara langsung oleh petani pada distributor yang akan mendistribusikannya pada berbagai pasar di Malang raya secara langsung. Sehingga dapat mereduksi rantai distribusi pada konsumen.
Sistem manajemen pasar tersebut perlu dikaji lebih mendalam lagi, mengingat beberapa keuntungan yang diperoleh baik pada petani maupun konsumen. Selain itu, manajemen tersebut merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan yang sangat baik. Sehingga dibutuhkan suatu perencanaan untuk mengelola pasar sayur supaya ketersediaan sayur di daerah Malang raya tercukupi.

Deskripsi Area serta Kondisi Pasar Sayur
Pasar sayur ini terletak di daerah tumpang kabupaten Malang. Pasar tersebut merupakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah sebagai wadah jual-beli sayuran bagi petani yang ada di daerah tumpang. Ukuran pasar ini tidak begitu luas seperti pasar pada umumnya. Dimana pasar hanya terdiri atas sebuah bangunan terbuka sekitar 20 meter. Dengan sempitnya bangunan pasar yang disediakan mengakibatkan beberapa orang yang membawa sayur ke lokasi tersebut berjajar disekitar area pasar. Pasar tersebut akan dibuka mulai jam 12.00 WIB sampai 16.00 WIB.  
Pasar sayur ini menyediakan berbagai sayuran yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat seperti bayam, kangkung, sawi, kenikir, serta kemangi. Sayuran didapatkan dari petani secara langsung dan akan dibeli oleh distributor secara besar-besaran untuk didistribusikan di seluruh wilayah Malang raya.
Gambar 1. Lokasi Pasar Sayur Tumpang

Dalam pasar sayur ini, petani jarang berada langsung di lokasi pasar. Hal ini dikarenakan sayur akan dibawa oleh seseorang menuju pasar tersebut untuk dibeli oleh distributor dari suatu pasar dengan harga yang layak. Sehingga petani tidak merasa dirugikan, karena mendapatkan harga sayur yang cukup tinggi dibandingkan dengan manajemen pasar lainnya.
Adapun harga dari ayuran yang dijual sangat bergantung pada ketersediaan sayuran dari petani. Apabila ketersediaan sayur bayam meningkat sedangkan ketersediaan sayur sawi menurun, maka harga sawi akan naik dari sebelumnya. Naiknya harga sayuran tersebut sangat cepat sekali. Bisa saja pada pagi hari harga sayur sawi murah, namun beberapa jam kemudian harga sayur sawi langsung meningkat. Meskipun harga sayuran di pasar tersebut kurang begitu stabil, namun tidak sampai merugikan bagi petani.

2.2  Pengertian Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan merupakan suatu upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, serta pengembangan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan ini dapat dilihat dari berbagai perspektif (Badan Lingkungan Hidup, 2011). Pengelolaan lingkungan ini melibatkan manajemen pada semua komponen lingkungan biofisik, baik komponen biotic maupun abiotik. Pengelolaan lingkungan ini nantinya diharapkan dapat menghubungkan semua organisme hidup dengan habitatnya. Selain itu juga melibatkan lingkungan manusia seperti sosial, budaya, dan ekonomi dengan lingkungan biofisik (Wisegeek, 2010)
Fungsi ekonomi dalam pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada ekosistem aslinya. Apabila kondisi lingkungan sustainable maka akan berpengaruh juga pada sector ekonomi, maka system tersebut akan menjadi satu dan mencapai kondisi yang ekuilibrium antara lingkungan dengan ekonomi (Annonymous, 2009). 
Pengelolaan lingkungan sangat diperlukan agar terlaksana suatu bentuk pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan serta lingkungan dapat terus menyediakan sumber daya dan kondisi yang diperlukan oleh makhluk hidup. Dalam pengelolaan lingkungan ini harus memenuhi beberapa azas antara lain azaz kesejahteraan social, keuntungan ekonomi, serta kelestarian lingkungan (Raka, 2010).

2.3  Pengelolaan Lingkungan Pasar Sayur
 Di negara agraris khususnya Indonesia, pembangunan ekonomi sangat bergantung pada pembangunan di bidang pertanian. Dalam kondisi krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi seperti saat ini, sektor pertanian tumbuh positif sementara sektor lainnya tumbuh negative. Kondisi ini membuktikan bahwa pembangunan pertanian perlu terus didorong untuk mendukung keberlanjutan pembangunan ekonomi di Indonesia (Raka, 2010).
Kondisi pasar sayur yang berada di daerah tumpang merupakan salah satu upaya dalam pembangunan pertanian yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembangunan ekonomi. Dalam manajemen pasar sayur tersebut, ketersediaan sayur di setiap harinya tidak pernah telat dalam arti ketersediaan sayuran selalu terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh cara bertani dari petani sekitar yang menggunakan sistem penggiliran penanaman dan pemanenan hasil pertanian. Sehingga kebutuhan akan sayuran selalu terpenuhi (Marsono, 1991).
System bertani dengan menggunakan pergiliran penanaman dan pemanenan memungkinkan petani dapat melakukan panen hasil pertaniannya setiap hari tanpa mengurangi kualitas dari hasil panen. Sistem ini didesain untuk dapat mencukupi kebutuhan sayuran oleh masyarakat. Dalam system ini petani akan merasa diuntungkan karena petani dapat melakukan panen setiap harinya. Disamping itu ketersediaan fasilitas pasar sayur yang ada di daerah Tumpang memungkinkan petani untuk segera menjual hasil panennya seketika setelah selesai panen dilakukan. Sehingga hasil panen dari petani dapat segera didistribusikan dengan lebih singkat dibandingkan dengan petani yang lainnya (tanpa adanya fasilitas pasar sayur tersebut) (Irwanto, 2005).
Keuntungan dari diterapkannya system pertanian tersebut membawa dampak positif bagi lingkungan, khususnya sawah milik petani. System pertanian yang seperti itu sangat bagus,  karena bisa menghambat berkembangnya hama yang ada di area persawahaan. Selain itu, apabila tanah sering dikelola secarah bijaksana dalam arti pengelolaan tanahnya sesuai maka unsur hara yang berada di persawahan tersebut terjaga dan unsur biotik yang ada di situ menjadi subur.  System pertanian ini memiliki pengaruh yang erat terhadap ketersediaan hara, penggunaan dan penyelamatan sumber daya alam. Selain itu dalam system ini terdapat dua komponen agroforestri yang berbeda dapat ditanam bersamaan atau bergiliran. Namun dalam pelaksanannya harus memperhatikan ketersediaan hara dalam tanah terutama dari segi pemilihan jenis dan pergiliran tanaman pertanian. Agar tanah tidak terkuras unsur haranya, maka perlu dibuat pergiliran tanaman pertanian yang dikombinasikan dengan tanaman kehutanan. Setelah beberapa kali penanaman dan panen tanaman pertanian perlu digantikan dengan tanaman kacang-kacangan yang termasuk dalam jenis leguminosae. Jenis ini dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen untuk menyuburkan tanah kembali (Marsono, 1991).
Hanya saja keterbatasan sayuran pada pasar kurang begitu bervariasi. Sayur yang tersedia hanya beberapa macam saja seperti bayam, kangkung, sawi, kemangi serta kenikir saja. Melihat potensi dari pasar sayur tersebut, menurut saya sebaiknya ketersediaan sayur lebih ditingkatkan dalam hal keanekaragamannya, seperti kubis, Lombok, jagung, serta berbagai macam sayur lainnya. Hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat akan sayur sangat bervariasi. 
Beralih pada system usaha pertanian yang ada di pasar sayur, pada pasar tersebut tidak melibatkan begitu banyak pihak dalam proses penerimaan barang dan jasa dalam arti jual belinya. Dalam arti lain pada pasar tersebut terjadi perpendekan rantai distribusi sayuran dari petani ke konsumen. Dalam hal ini petani langsung menjual sayurnya pada pasar untuk selanjutnya akan di bawa oleh distributor ke pasar yang ada d wilayah malang raya.
Sistem usaha pertanian yang melibatkan begitu banyak pihak menunjukkan kondisi yang serba lemah terutama sekali di pihak petani. Berbagai aspek tinjauan baik dari penguasaan sumber daya, teknologi, ketrampilan serta lemahnya jaringan pelaku, pada dasarnya adalah fakta-fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Fokus yang berbeda, dalam proses pemasaran dituntut harus dapat mempertemukan kepentingan dan kebutuhan produsen dengan konsumen, yang seringkali saling bertentangan. Proses sistem dituntut dapat mengalirkan barang atau jasa ke tangan konsumen akhir secara efektif dan efisien, serta dapat melancarkan adanya arus informasi timbal balik sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pelaku terkait (Raka, 2010).
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan manajemen lingkungan tersebut memiliki beberapa keuntungan baik bagi lingkungan maupun petani, diantaranya adalah:
  • Ketersediaan unsure hara dalam tanah tetap terjaga
  • Memperpendek rantai distribusi sayur dari produsen ke konsumen
  • Petani mendapatkan harga yang layak dari hasil pertaniannya, selain itu petani dapat melakukan pemanenan hasil pertaniannya setiap hari
  • Kebutuhan masyarakat akan sayuran akan tetap terpenuhi karena petani menggunakan system pergiliran penanaman dan pemanenan.
Namun, manajemen lingkungan tersebut juga memiliki kekurangan salah satunya adalah kurangnya variasi sayuran yang tersedia di pasar, padahal kebutuhan masyarakat akan sayuran sangatklah bervariasi. Sehingga menurut saya, solusi yang harus diberikan adalah perlu dilakukan peningkatan keanekaragaman jenis sayuran yang dijual pada pasar tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2009. Pedoman Umum Budidaya di Lahan Pegunungan. Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Badan Lingkungan Hidup. 2011. Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Lingkungan. http://lh.malangkab.go.id/index.php?kode=1. Diakses tanggal 21 Maret 2012
Irwanto. 2005. Agroforestri. http://www.irwantoshut.net/index.html. Diakses tanggal 21 maret 2012
Marsono, D. 1991. Potensi dan Kondisi Hutan Hujan Tropika Basah di Indonesia. Buletin Instiper Volume.2. No.2. Institut Pertanian STIPER. Yogyakarta.
Raka, I. D. G. 2010, Perspektif Pengembangan Manajemen Pemasaran Sayuran di Bali: Kasus di Desa Pancasari Kabupaten Buleleng. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Bali
Sumardjo, Saharuddin, dan, Nuning, Kusumowardani. 2002. Pendampingan dalam Rangka Pemberdayaan Kelembagaan Lumbung Pangan. (Laporan Akhir). Bogor: Bagian Proyek Pengembangan Ketahanan Pangan Masyarakat Badan Bimas Ketahanan Pangan dan Pusat Studi Pemba-ngunan LP-IPB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar